Yangon, Aktual.com – Pendukung militer Myanmar, beberapa bersenjatakan pisau dan pentungan, yang lain menembakkan ketapel dan melempar batu, menyerang penentang kudeta 1 Februari pada hari Kamis (25/2), ketika protes terhadap junta baru berlanjut di kota terbesar di negara itu.

Myanmar berada dalam kekacauan sejak tentara merebut kekuasaan dan menahan pemimpin pemerintahan sipil Aung San Suu Kyi dan banyak pemimpin partainya setelah militer menuduh curang dalam pemilihan November.

Protes dan pemogokan telah berlangsung setiap hari selama sekitar tiga minggu, dan mahasiswa berencana keluar lagi di pusat komersial Yangon, seperti dikutip dari France24, Jumat (26/2).

Tetapi sebelum banyak penentang kudeta berkumpul, sekitar 1.000 pendukung militer muncul di tengah unjuk rasa di pusat kota.

Beberapa di antaranya mengancam fotografer berita, kata pekerja media dan saksi, dan bentrokan segera meningkat menjadi kekerasan yang lebih serius di beberapa bagian kota.

Beberapa orang diserang dan dipukuli oleh sekelompok pria, beberapa bersenjata pisau, yang lainnya menembakkan ketapel dan melemparkan batu, kata saksi mata. Setidaknya dua orang ditikam, berdasarkan rekaman video.

Dalam satu insiden, beberapa pria, salah satunya memegang pisau besar, menyerang seorang pria di luar hotel di pusat kota. Petugas darurat membantu pria yang berlumuran darah itu setelah penyerangnya pergi tetapi tidak diketahui bagaimana kondisinya.

“Peristiwa hari ini menunjukkan siapa teroris itu. Mereka takut dengan tindakan rakyat untuk demokrasi,” kata aktivis Thin Zar Shun Lei Yi kepada Reuters.

“Kami akan melanjutkan protes damai kami melawan kediktatoran.”

Saat senja turun, puluhan polisi anti huru hara menembakkan gas air mata ke lingkungan di kota untuk membubarkan kerumunan yang berkumpul di kantor administrasi untuk memprotes penunjukan pejabat lokal oleh junta, menurut seorang saksi mata dan video yang disiarkan langsung.

Sebelumnya, polisi memblokir gerbang kampus universitas utama Yangon, menghentikan ratusan mahasiswa yang keluar untuk berdemonstrasi.

Facebook mengatakan bahwa karena risiko yang terlihat dari “kekerasan mematikan” yang terlihat sejak kudeta, Facebook melarang militer Myanmar menggunakan platform Facebook dan Instagram-nya.

Juru bicara dewan militer yang berkuasa tidak menanggapi telepon yang meminta komentar.

Panglima militer Jenderal Min Aung Hlaing mengatakan pihak berwenang menggunakan kekuatan minimal. Namun demikian, tiga pengunjuk rasa dan satu polisi tewas dalam kekerasan.(RRI)

(Warto'i)