Artinya, harus menjadi oposisi yang berkualitas dan berperang secara argumentatif yang rasional dan cerdas, bukan turun ke jalan sebagai parlemen jalanan atau menggunakan rakyat sebagai tameng untuk unjuk kekuatan.

Di sisi lain, oposan harus menghilangkan cara pikir jika kekuasaan tidak pernah benar di matanya.

“Jadi, oposan yang baik jika menegur ada yang salah dan memuji jika ada yang benar,” kata Ahmad Atang.

(Abdul Hamid)