Dua wisatawan mancanegara menaiki perahu motor saat mengunjungi kawasan wisata alternatif Luar Batang di Penjaringan, Jakarta, Jumat (25/3). Pemerintah memberlakukan bebas visa kepada wisatawan dari 169 negara guna mencapai target kunjungan 12 juta wisman ke Indonesia pada 2016. ANTARA FOTO/Wahyu Putro A/kye/16

Jakarta, Aktual.com – Kawasan Pasar Ikan dan Akuarium memang telah rata sejak Senin (11/4) lalu usai digaruk belasan alat berat dam serbuan 4000 aparat keamanan gabungan. Namun, kehidupan di sana tak serta merta mati, warga bertahan dengan caramya sendiri, meski pahit.

Malam itu, dekat runtuhan Akuarium, suara bocah-bocah bermain terdengar jelas diantara suara dentuman palu yang bertalu-talu melepaskan besi dari semen. Serta belasan sampan yang berderat di pinggir tanggul rob.

Di atas perahu-perahu tersebut, tertumpuk sejumlah harta benda. Seperti lemari, kasur, gayung dan embernya, galon air bahkan kulkas seakan mereka memindahkan kehidupan dari darat ke atas laut.

Sampan menjadi pilihan bagi mereka yang kehilangan tempat tinggal dan tak mendapatkan jatah pindah ke rusun. Sampan yang kini menerima mereka setelah negara lupa akan kewajiban mensejahterakan rakyatnya, meskipun mereka tak ber KTP DKI.

Salah seorang penghuni perahu, Naisah menuturkan, jika ia tidak seorang diri hidup di atas perahu, “Di atas perahu yang kami huni sekarang ada dua keluarga yang menempati. Total semuanya ada delapan orang,” kata dia, Penjaringan, Jakarta Utara, Rabu (13/4).

Naisah yang merupakan warga Rt 1/4 mengatakan, jika rumah yang selama ini ia tempati telah berstatus Letter C atau Girik sejak dibeli orangtuanya tahun 2002. Namun apa daya, Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaya Purnama (Ahok) tetap menganggapnya ilegal dan wajib diratakan, “Gak ada ganti rugi dari pemrintah,” lirih dia.

Derita tak putus di situ, rupanya, Naisah tengah berbadan dua, Naisah mengatakan jika saat ini janin yang ia kandung telah berumur tujuh bulan. Dalam keadaan sulit seperti itu, Naisah yang merupakan karyawati swasta tetap bertahan meski harus berangkat kerja dari perahu.

“Apa boleh buat, Mas. Kami yang rakyat kecil ini bisa apa? Siapa yang peduli?” tutupnya.

()