Tripoli, Aktual.com – Pihak berwenang di Libya pada Selasa (20/11) menurunkan dengan paksa sedikitnya 79 migran yang telah menolak meninggalkan kapal peti kemas yang menyelamatkan mereka sebelum melakukan perbaikan di satu pelabuhan sebelah barat Tripoli, kata kelompok hak-hak asasi manusia dan seorang komandan penjaga pantai.

Kapal peti kemas “Nivin” yang berbendera Panama menyelamatkan mereka dan para migran lain di lepas pantai Libya 10 hari lalu sementara kapal yang mereka tumpangi mulai tenggelam dan membawa mereka ke Misrata.

Ketika berada di sana, 14 orang dengan sukarela bersedia turun tetapi, dalam perkara yang pertama kali terjadi dan terdokumentasi, sebanyak 92 lainnya menolak meninggalkan kapal itu.

“Pasukan gabungan menggeledah kapal kargo itu dan menggunakan peluru-peluru karet dan gas air mata untuk memaksa (mereka turun dari kapal),” kata Tawfiq Esskair, komandan pejaga pantai bagian tengah, kepada Reuters lewat telepon, dan menyebutkan jumlah pengungsi lebih 90 orang.

Beberapa orang terluka dalam proses menurunkan para pengungsi tetapi sekarang “dalam kondisi baik” setelah mendapat perawatan di rumah sakit, dan semua dibawa ke rumah tahanan di kota, kata dia.

Menurut dia, operasi tersebut dilakukan dengan bantuan kantor kejaksaan Libya. PBB dan Human Rights Watch (HRW) menyebutkan jumlah para migran yang diturunkan dari kapal itu sebanyak 79 orang.

Dalam pernyataannya PBB mengatakan “komunitas kemanusiaan sedih atas peristiwa-peristiwa yang terjadi itu”. Dengan mengeluarkan kata-kata yang lebih keras, HRW menyerukan penyelidikan apakah “pemaksaan yang tak berdasar hukum itu” telah digunakan.

“Ini simpulan yang mungkin paling buruk atas nasib orang-orang di atas kapal Nivin menghindari penahanan tak berperikemanusiaan di Libya,” kata Judith Sunderland, penjabat deputi direktur HRW untuk Eropa dan Asia Tengah, dalam pernyataan.

Para diplomat dari negara-negara asal para migran itu seperti Sudan dan Somalia telah berusaha berunding dengan para pengungsi agar meninggalkan kapal itu, yang mengangkut mobil-mobil.

Pantai bagian barat Libya menjadi titik keberangkatan bagi para migran yang meninggalkan negara-negara mereka akibat perang dan kemiskinan dengan harapan memulai hidup baru di Eropa.

Ant.

(Teuku Wildan)