Jakarta, Aktual.com — Melanjutkan pemberitaan Aktual.com sebelumnya, bagaimanakah dengan peran seorang Muslimah pada masa Rasulullah SAW?

Ustadzah Nurhasanah menjelaskan, pada masa Rasulullah SAW, kaum hawa tidak mau ketinggalan memberikan kontribusi, peran dan tanggungjawab mereka. Wanita Muslim ikut berlomba meraih kebaikan, meskipun mereka juga sibuk sebagai ibu rumah tangga, mereka ikut belajar dan bertanya kepada Rasulullah SAW.

“Wanita yang paling setia kepada Rasulullah SAW adalah Khadijah yang telah berkorban dengan jiwa dan hartanya. Kemudian Aisyah, yang banyak belajar dari Rasulullah SAW kemudian mengajarkannya kepada kaum wanita dan pria. Bahkan, ada pendapat Ulama yang mengatakan, seandainya ilmu seluruh wanita dikumpulkan dibanding ilmu Aisyah, maka ilmu Aisyah akan lebih banyak. Begitulah Rasulullah SAW memuji Aisyah,” papar Ustadzah Hasanah kepada Aktual.com, di Jakarta, Selasa (12/04).

Menurut ia, di masa itu seorang wanita bernama Asma binti Sakan. Dia suka hadir dalam pengajian Rasulullah SAW, pada suatu hari dia bertanya kepada Rasulullah SAW. “Ya Rasulullah SAW, engkau diutus Allah SWT kepada kaum pria dan wanita, tapi mengapa banyak ajaran syariat lebih banyak untuk kaum pria ? Kami pun ingin seperti mereka. Kaum pria diwajibkan salat Jumat, sedangkan kami tidak, mereka mengantar jenazah, sementara kami tidak, mereka diwajibkan berjihad, sedangkan kami tidak.”

Bahkan, kami mengurusi rumah, harta, dan anak mereka. Kami ingin seperti mereka. Maka, Rasulullah SAW menoleh kepada sahabatnya sambil berkata, “Tidak pernah aku mendapat pertanyaan sebaik pertanyaan wanita ini. Wahai Asma, sampaikan kepada seluruh wanita di belakangmu, jika kalian berbakti kepada suami kalian dan bertanggung jawab dalam keluarga kalian, maka kalian akan mendapatkan pahala yang diperoleh kaum pria tadi.”(HR. Ibnu Abdil Bar).

Dalam riwayat Imam Ahmad, Asma meriwayatkan bahwa suatu kali dia berada dekat Rasulullah SAW. Di sekitar Rasulullah SAW berkumpullah kaum pria dan juga kaum wanita. Maka beliau bersabda, “Bisa jadi ada orang laki-laki bertanya tentang hubungan seseorang dengan istrinya atau seorang wanita menceritakan hubungannya dengan suaminya.” Maka tak seorang pun yang berani bicara, maka saya angkat suara. “Benar ya Rasulullah, ada pria atau wanita yang suka menceritakan hal pribadi itu.” Rasulullah menimpali, “Jangan kalian lakukan itu, karena itu jebakan syaitan seakan syaitan pria bertemu dengan syaitan wanita, kemudian berselingkuh dan manusia pada melihatnya.”

Ada juga wanita yang diuji dengan penyakit, sehingga dia datang kepada Rasulullah SAW meminta untuk didoakan. Atha’ bin Abi Rabah bercerita, bahwa Ibnu Abbas RA, berkata kepadaku, “Maukah aku tunjukkan kepadamu wanita Surga ?” Aku menjawab, “Ya”. Dia melanjutkan, “Ini wanita hitam yang datang ke Rasulullah SAW mengadu, ‘Saya terserang epilepsi dan auratku terbuka, maka doakanlah saya’. Rasulullah SAW bersabda, “Jika kamu sabar, itu lebih baik, kamu dapat surga. Atau, kalau kamu mau, saya berdoa kepada Allah SWT agar kamu sembuh”. Wanita itu berkata, “Kalau begitu saya sabar, hanya saja auratku suka tersingkap. Doakan supaya tidak tersingkap auratku”. Maka, Rasulullah SAW mendoakannya.

Ada juga Khansa yang merelakan empat anaknya mati syahid. Ia berkata, “Alhamdulillah yang telah menjadikan anak-anakku mati syahid.”

Begitulah peranan wanita pada masa Rasulullah SAW. Mereka berpikir untuk akhiratnya, sedang wanita sekarang yang lebih banyak memikirkan dunia, rumah tinggal, makanan, minuman, kendaraan, dan lain-lain. Bersambung……

()