Kata 'sanksi' tertulis di atas bendera Uni Eropa dan Rusia sebagai gambar ilustrasi yang dibuat Reuters pada 27 Februari 2022. (REUTERS/DADO RUVIC)

Jakarta, Aktual.com – Badan Pusat Statistik (BPS) baru saja melaporkan telah terjadinya deflasi sebesar 0,02 persen pada Februari 2022 atau adanya penurunan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 108,26 pada Januari menjadi 108,24.

Salah satu penyebabnya yakni penurunan harga komoditas minyak goreng yang memicu terjadinya deflasi pada Februari 2022 yang sebesar 0,02 persen dengan andil mencapai 0,11 persen.

Selain minyak goreng, komoditas yang turut memicu deflasi pada Februari adalah telur ayam ras dengan andil sebesar 0,10 persen karena surplus telur ayam ras sehingga pasokan meningkat dan harganya menjadi turun.

Selain itu juga ada daging ayam ras memberikan andil 0,06 persen terhadap deflasi Februari karena produksi ayam surplus sedangkan permintaan normal sehingga menyebabkan harga turun.

Sementara sembilan kelompok pengeluaran lainnya mengalami inflasi yaitu pakaian dan alas kaki 0,09 persen, kesehatan 0,33 persen, transportasi 0,07 persen, pendidikan 0,07 persen serta penyediaan makanan dan minuman/restoran 0,53 persen.

Kemudian kelompok pengeluaran perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga juga mengalami inflasi sebesar 0,25 persen serta kelompok pengeluaran perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga 0,45 persen.

Bagaimana pada bulan Maret 2022?

Kita ketahui bersama, bahwa Rusia baru saja melakukan invasi ke negera tetangganya yakni Ukraina, sejak 24 Februari 2022 lalu. Ancaman sanksi ekonomi dari negara-negara Uni Eropa dan dari Amerika Serikat mulai membayangi negeri Beruang Merah itu.

Saat ini Harga minyak di pasar internasional pada perdagangan Senin (Selasa WIB) melonjak di atas 100 dolar AS per barel, karena investor mulai memperhitungkan dampak sanksi terbaru negara-negara Eropa terhadap Rusia.

Minyak mentah Brent untuk pengiriman April tercatat naik 3,06 dolar atau 3,1 persen, menjadi 100,99 dolar per barel di London ICE Futures Exchange.

Sementara, West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman April bertambah 4,13 dolar AS, atau 4,5 persen, menjadi menetap di 95,72 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange.

Tak hanya harga minyak, Kurs dolar AS bergerak lebih tinggi pada akhir perdagangan pada Senin (Selasa pagi WIB) karena ketegangan atas situasi Ukraina yang masih terus berlanjut.

Indeks dolar, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama dunia naik sebesar 0,09 persen menjadi 96,7010.

Presiden Rusia, Vladimir Putin memberikan perlawanan terkait sanksi yang diberikan kepada negaranya yang menginvasi Ukraina.

Dia memerintahkan larangan pinjaman valuta asing dan transfer oleh warga Rusia ke luar negeri sebagai pembalasan atas sanksi ekonomi yang dikenakan Barat kepada Moskow.

Dia juga menandatangani undang-undang yang memerintahkan seluruh perusahaan pengekspor untuk menjual 80 persen dari pendapatan devisa mereka yang dibuat sejak 1 Januari di pasar, demikian diumumkan Kremlin.

Perang Rusia vs Ukraina ini tentunya memberikan dampak positif terhadap industri hulu Migas di Indonesia. Harga minyak dunia akan terus naik, kegiatan eksplorasi dan produksi tentu akan meningkat.

Namun perlu kita pahami, sudah dua dekade ini negara kita bukan lagi menjadi pengekspor minyak. Yang berarti beban negara akan kembali bertambah dengan terjadinya Perang Rusia vs Ukraina ini.

Apalagi jika NATO yang dipimpin oleh AS ikut andil membantu Ukraina melawan Rusia. Yang berarti dua negara bertetangga ini tidak akan pernah lagi berdamai.

Indonesia sebagai pemimpin G20 harus ikut andil dalam mendamaikan dua negara ini. Apalagi Indonesia sudah dikenal menjadi negara yang menjunjung tinggi asas Perdamaian Dunia.

Jangan sampai perang terus berkecamuk, menyebabkan akan makin banyak rakyat menjadi korban. Jangan sampai ekonomi dunia semakin kacau balau, sehingga berdampak juga bagi ekonomi Indonesia.

Tidak ada perang saja bulan lalu, harga gas LPG sudah memberikan inflasi, apalagi jika terjadi perang. Kita ketahui bahwa Rusia adalah salah satu negara penghasil Gas terbesar di dunia.

(Redaksi Aktual)