Jakarta, Aktual.comDirektur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Mohammad Faisal memperkirakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2022 akan mencapai sekitar 4,5 persen sampai 5,0 persen year on year.

“Dengan kata lain, melambat dibanding pertumbuhan PDB (Produk Domestik Bruto) pada kuartal II 2022 yang mencapai 5,01 persen yoy. Dengan demikian, pertumbuhan PDB secara keseluruhan tahun 2022 akan berada di kisaran 4,5 sampai 5,0 persen atau masih sejalan dengan prediksi dengan yang kami sampaikan pada CORE Economic Outlook 2022,” kata Faisal di Jakarta, Senin (1/8).

Ia menyebutkan pandemi Covid-19 sebetulnya tidak lagi mengurangi aktivitas mobilitas masyarakat, tetapi inflasi dalam satu semester tahun ini yang mencapai 3,19 persen year to date atau jauh lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 0,74 persen cukup menghambat belanja masyarakat.

“Apalagi sumbangan terbesar inflasi tersebut berasal dari bahan makanan yang menjadi basket terbesar konsumsi masyarakat menengah ke bawah,” katanya.

Perlambatan konsumsi masyarakat tercermin pada pertumbuhan Indeks Penjualan Riil (IPR) kuartal kedua yang sebesar 8,96 persen atau melambat dibandingkan pertumbuhan kuartal sebelumnya sebesar 12,46 persen.

Dampak kenaikan harga kebutuhan pokok dan potensi resesi di berbagai negara termasuk tujuan ekspor Indonesia dapat berdampak kecil pada pertumbuhan ekonomi Indonesia, selama pemerintah dan bank sentral membuat kebijakan yang akomodatif untuk menjaga pertumbuhan ekonomi domestik.

Menurutnya, pemerintah perlu membuat kebijakan untuk menjaga laju inflasi agar tetap berada di bawah 5 persen di 2022, khususnya yang disumbangkan oleh harga yang diatur pemerintah atau administered price, seperti Bahan Bakar Minyak (BBM) dan listrik.

“Jika Bank Indonesia relatif lebih akomodatif terhadap pemulihan ekonomi tahun ini, tekanan eksternal yang disebabkan oleh potensi resesi global akan lebih ringan dampaknya,” katanya.

(Wisnu)