Petani di Kabupaten Lebak, Banten

Lebak, aktual.com – Sejumlah petani di Kabupaten Lebak meminta pemerintah memetakan komoditas pertanian baik secara nasional maupun regional guna menumbuhkan agribisnis sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan kedaulatan pangan.

“Kami menilai pemetaan komoditas pertanian itu belum maksimal, sehingga negara masih mendatangkan produk impor,” kata Ketua Asosiasi Petani Pepaya California (APPCK) Kabupaten Lebak Dede Supriatna di Lebak, ditulis senin [23/3].

Ia mengatakan pemerintah harus membangun reorientasi pengembangan sektor pertanian dengan mengoptimalkan pemetaan berbasis produk unggulan pada sektor pertanian palawija, pangan, dan hortikultura.

Produk komoditas unggulan tersebut memungkinkan Indonesia sebagai negara pengekspor, terlebih didukung lahan begitu luas dan subur.

Namun, sejauh ini pemerintah masih mengimpor produk pertanian dari luar negeri, seperti kacang kedelai, bawang putih, beras, jeruk, durian, apel, anggur dan lainnya.

Oleh karena itu, pihaknya meminta pemerintah melakukan pemetaan komoditas pertanian sehingga ke depan tidak mendatangkan impor dari luar negeri.

“Kami yakin petani bisa memenuhi kedaulatan pangan jika dilakukan pemetaan itu,” katanya.

Menurut dia, sebetulnya Indonesia bisa menjadi daerah penghasil produk pertanian sayuran dan buah-buahan tanpa impor, misalnya petani membudidayakan bawang putih di lahan berketinggian di atas 900 permukaan laut.  Begitu juga perkebunan sayuran kentang, wortel, durian, jeruk bisa dikembangkan dengan ketinggian di atas 500 permukaan laut.

Sebab, wilayah Kabupaten Lebak sebagai daerah agraris tentu bisa dikembangkan berbagai komoditas pertanian sesuai dengan pengembangan wilayah.

“Kita optimistis ke depan tidak mendatangkan produk pertanian dari luar negeri jika dilaksanakan pemetaan itu dan Indonesia memiliki tenaga SDM yang unggul di sektor pertanian,” kata mantan Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Lebak.

Ketua Kelompok Tani Sukabungah Desa Tambakbaya Kabupaten Lebak Ruhyana mengatakan saat ini pihaknya mampu menyumbangkan kedaulatan pangan ke pasar lokal hingga 30 ton/bulan beras dengan pendapatan petani rata-rata Rp30 juta/hektare/musim panen.

Pengembangan tanaman pangan padi sawah berhasil karena intervensi pemerintah daerah cukup besar dalam menyalurkan bantuan sarana peralatan produksi (sapras) dan peralatan pertanian (alsintan).

Namun petani kesulitan untuk mengembangkan pertanian sayuran ketimun, kacang panjang, pare, terung, padahal potensi pertanian sangat memungkinkan penghasil sayuran.

“Kami mendukung jika pemerintah memberlakukan pemetaan agar produk pertanian bisa menjadikan kedaulatan pangan nasional,” kata Ruhyana.

Sementara itu, Kepala Bidang Produksi Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Lebak Iman Nurzaman mengatakan saat ini pemerintah daerah fokus pada pertanian pangan dengan memberikan benih dan pupuk kepada petani di lahan seluas 41.000 hektare.

“Kami tahun ini akan mengusulkan bantuan anggaran dari Kementerian Pertanian untuk pemerataan produk komoditas pertanian dengan mengembangkan tanaman hortikultura jenis durian, manggis dan rambutan,” katanya.

(Eko Priyanto)