Rowan County Clerk Kim Davis, right, talks with David Moore following her office's refusal to issue marriage licenses at the Rowan County Courthouse in Morehead, Ky., Tuesday, Sept. 1, 2015. Although her appeal to the U.S. Supreme Court was denied, Davis still refuses to issue marriage licenses. (AP Photo/Timothy D. Easley)

Washington, Aktual.com – Kim Davis, panitera pengadilan negara bagian Kentucky, yang menolak mengeluarkan surat nikah untuk pasangan sejenis, pada Rabu (30/9) waktu Amerika Serikat, menyatakan secara diam-diam bertemu dengan Paus Fransiskus, yang berkunjung ke Amerika Serikat.

Davis, yang sejak lahir menganut Kristiani, mengatakan bahwa ia bertemu dengan Paus pada 24 September di Washington setelah menerima telefon dari pegawai Vatikan.

“Sangat rendah hati bahwa ia ingin bertemu dengan saya. Sebelum pergi, ia berpesan ‘tetaplah kuat’,” kata Davis, dikutip dari ABC News, Kamis (1/10).

Di Roma, juru bicara Vatikan Federico Lombardi memmastikan pertemuan tersebut namun menolak memberi tanggapan.

Davis menjadi pahlawan bagi penentang perkawinan sesama jenis di Amerika Serikat, setelah ditahan enam hari karena menolak menerbitkan surat nikah untuk pasangan sejenis, padahal Mahkamah Agung AS telah mensahkan perkawinan sesama jenis di seluruh AS.

Ia kemudian dibebaskan setelah wakil panitera pengadilan di Kota Rowan, Kentucky, menyatakan akan mengeluarkan setifikat pernikahan tersebut.

“Saya mengulurkan tangan saya dan ia meraihnya, kemudian sambil memeluk saya dia katakan ‘terima kasih untuk keberanianmu’,” kata Davis tentang pertemuannya dengan Paus Francis.

“Menjadi sebuah semangat besar bahwa Paus tetap berada di jalurnya, bahwa dia menyetujui dan mengesahkan apa yang kita lakukan,” katanya menambahkan.

Dalam pertemuan di Kedutaan Besar Vatikan itu, Paus memberi Davis dua kalung rosario berwarna hitam dan merah, kata pengacara Davis, Mathew Staver.

“Orang tua Kim Davis sepanjang hidup mereka merupakan penganut Katolik, maka dia bisa memberi ayah dan ibunya rosario hadiah dari Paus,” kata Staver.

Selama kunjungannya ke Washington, New York, dan Philadelphia minggu lalu, Paus Francis menyerukan tentang kebebasan beragama namun tidak sekali pun menyebut nama Davis.

Namun, dalam penerbangannya kembali ke Vatikan, Paus mengatakan pada reporter Amerika bahwa “protes keras merupakan bagian dari hak asasi manusia”.

()

()