Seorang pelaku usaha yang tergabung dalam komunitas Tangan Di Atas (TDA) menata barang dagangannya saat pameran di Palu, Sulawesi Tengah, Sabtu (26/10/2019). Hampir seluruh anggota pelaku usaha yang tergabung dalam komuitas UMKM itu bertransaksi dengan sistem daring. ANTARA FOTO/Basri Marzuki/foc.

Aktual.com, Jakarta – Ketua Asosiasi Kader Sosio-Ekonomi Strategis (AKSES), Suroto menilai pelaksanaan program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) sebesar Rp695 triliun masih sangat lamban. Bahkan alokasi untuk para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) sebesar Rp124 triliun tidak tepat sasaran.

“Usaha Mikro dan Kecil itu jumlahnya 99,3 persen dari sebanyak 64 juta pelaku usaha kita. Mereka selama ini adalah pemberi pekerjaan masyarakat hingga 95 persen dari total angkatan kerja. Mereka adalah sektor yang selama ini menghidupi ekonomi masyarakat banyak,” kata Suroto dalam keterangan tertulisnya, Jakarta, Kamis (13/8).

Ia menyebut jika pelaksanaan program PEN ini ada yang salah. Sebab selama ini alokasi tersebut hanya difokuskan untuk korporasi besar yang sebetulnya memiliki dana cadangan lebih besar.

Koporasi besar itu diberikan berbagai bentuk skema pendanaan seperti restrukturisasi, subsidi bunga, dana penempatan, modal penyertaan, pengadaan bantuan sosial dan lain lain.

“Sementara alokasi sebesar Rp124 triliun untuk UMKM dan Koperasi saja semua dialokasikan melalui mekanisme bank. Sementara bank dalam situasi seperti ini pasti semakin hati-hati salurkan pembiayaan,” ungkapnya.

Bahkan, menurut Suroto, tim yang dipilih untuk pemulihan ekonomi juga tidak menggambarkan aspirasi dari pelaku UMKM. Jadi sangat kecil sekali kemungkinan untuk membuat komitmen kepada usaha mikro dan kecil. Tak heran jika sampai hari ini, pemulihan di sektor UMKM masih sebatas wacana.

Seperti diketahui, dampak pandemi Covid-19 saat ini membuat Usaha Mikro dan Kecil menjadi babak-belur karena modal kerja mereka sudah habis untuk membiayai hidup sehari-hari. “Jadi akan sulit diharapkan ekonomi akan segera bangkit kembali dengan cepat,” ujar Suroto.

(A. Hilmi)