Sementara dalam pengamatan yang dilakukan pada hari Rabu (16/10), pukul 00.00-06.00 WIB, amplitudo tremor menerus yang terekam berkisar 0,5-3 milimeter dan dominan 1 milimeter.

“Saat Gunung Slamet mengalami peningkatan aktivitas pada tahun 2008-2009 dan 2014, terutama saat akan terjadi letusan, tremor menerus tertinggi mencapai di atas 10 milimeter. Tetapi saat itu ada parameter lain yang mendukung, kalau sekarang belum ada,” katanya.

Selain itu, kata dia, gempa embusan masih terekam dan asap putih tipis dengan ketinggian 50-100 meter yang keluar dari kawah puncak Gunung Slamet juga masih teramati oleh petugas Pos PGA Slamet.

Ia mengakui jika embusan asap putih yang keluar dari kawah puncak Gunung Slamet pada Senin (14/10) pagi sempat terlihat cukup tebal, namun sekarang kembali menipis.

“Deformasi juga masih terjadi di Gunung Slamet, sehingga statusnya masih tetap waspada,” ucapnya.

Terkait dengan hal itu, dia mengatakan hingga saat ini PVMBG masih merekomendasikan kepada masyarakat maupun pengunjung untuk tidak beraktivitas dalam radius 2 kilometer dari kawah puncak Gunung Slamet.

PVMBG pada tanggal 9 Agustus 2019, pukul 09.00 WIB, menaikkan status Gunung Slamet dari aktif normal (Level I, red.) menjadi waspada (Level II, red.) karena ada peningkatan aktivitas kegempaan dan parameter lainnya.

(Abdul Hamid)