Direktur Insan Bumi Mandiri saat memaparkan qurban meningkatkan ekonomi umat masyarakat pedalaman.
Direktur Insan Bumi Mandiri saat memaparkan qurban meningkatkan ekonomi umat masyarakat pedalaman.

Jakarta, Aktual.com – Dalam rangka meningkatkan dan memberdayakan ekonomi umat di daerah terpencil, Insan Bumi Mandiri (IBM) melakukan berbagai kegiatan, diantaranya adalah qurban di pedalaman. Program ini memberdayakan masyarakat lokal berupa pemeliharaan dan pembelian kambing/sapi, kemudian dari kambing/sapi tersebut dibeli untuk dijadikan hewan kurban.

“Meski masyarakat di NTT memiliki banyak kambing dan sapi, namun dari sisi penjualan hanya terjadi pada momen-momen tertentu saja. Nah, harapannya dengan program ini, ternak kambing mereka bisa dijadikan sebagai pendapatan dan bisa meningkatkan ekonomi umat,” ujar Direktur IBM, Ridwan Hilmi di Jakarta, Rabu (18/7).

Menurutnya, partisipasi dan dukungan masyarakat perkotaan menjadi solusi konkrit untuk memberikan dampak pemberdayaan bagi masyarakat di pelosok dan pedalaman Indonesia. Tahun 2017, IBM menghimpun 769 kambing Qurban dari masyarakat – yang mengalami kenaikan hingga 400% sejak 2016 lalu.

“Hal utama adalah pemberdayaan lebih dari 200 peternak lokal yang memelihara kambingnya secara tradisional. Selain itu ribuan warga di 80 wilayah terpencil merasakan berkahnya Qurban. Mereka secara swadaya turut menyembelih hewan, mengurus boning dan pemotongan daging, hingga menyantap daging bersama dalam prosesi ‘Makan Besar’ sebagai bagian kebiasaan warga lokal di sana,” jelas Ridwan.

Meningkatnya minat para pequrban mendorong IBM untuk mengejar target himpunan hewan Qurban di tahun 2018 menjadi 2.000 kambing serta 300 sapi. Agar kemanfaatan Qurban ini bisa dirasakan hingga ke berbagai pelosok, IBM pun menjalin kemitraan dengan jejaring masjid di kabupaten-kabupaten di berbagai pedalaman Indonesia.

“Prioritas utama wilayah distribusi Qurban di Pedalaman ini adalah: Pulau Alor, Pulau Pantar, Lembata, Sikka, dan Manggarai Barat di Nusa Tenggara Timur. Tahun ini diharapkan bisa menjangkau wilayah-wilayah di Sumatera (Muratara, Musirawas, Lubuklinggau), Sulawesi (Paringgi Moutong), Flores Timur, dan Papua (Wamena, Timika, Manokwari, Sorong),” tegasnya.

Potret kondisi ekonomi masyarakat pedalaman yang rendah ini, juga disampaikan oleh Ustadz Kadir Djaibakal yang menjadi relawan lokal IBM di Pulau Pura, Alor, NTT.

“Kondisi ini bukan hanya terjadi di Pulau Pura, melainkan di seluruh wilayah Alor. Kami perlu sambung tangan kepada para donatur dan masyarakat berpunya, agar mau melihat bahkan membantu secara langsung kesulitan warga kami di sini,” tegas Kadir.

Dirinya bercerita, peternak kambing lokal biasanya memiliki dua atau tiga kambing yang diurus seadanya, dilepas di ruang terbuka. Masyarakat belum memiliki orientasi ternak produktif. Bahkan ketika ada jual beli kambing, terkadang masyarakat secara bersama-sama menangkap kambing yang bekeliaran diluar.

“Belum lagi terkait distribusi kambing kurban, kami menangkap dan mendistribukan kambing antar pulau. Kadang ada kambing yang terpaksa ikut berenang untuk mencapai ketepian pulau,” jelasnya.

Kondisi seperti ini menjadi motivasi untuk menyambungkan donatur di perkotaan – agar bisa menyampaikan niat baik dan donasi melalui berbagai program di pedalaman.

“Program-program kesehatan, pendidikan, pemberdayaan ekonomi, dan pembangunan di pedalaman, menjadi wujud nyata para donatur dan kami di IBM untuk memperbaiki akses dan kondisi masyarakat di pedalaman,” pungkasnya.

(Eka)