Ucapan syukur kepada Allah yg tertulus di papan

Jakarta, Aktual.com – Nabi Muhammad SAW merupakan seorang Rasul, yang diutus oleh Allah SWT, memiliki banyak sekali mukjizat sebagai bentuk meyakinkan para penentangnya atau menambah keimanan orang yang sudah masuk Islam.

Walaupun begitu, Nabi Muhammad SAW tetaplah manusia biasa seperti kita. sifat-sifat kemanusiaannya masih melekat di dalam diri Rasulullah, seperti haus, lapar, menikah dan lain-lainnya. Allah SWT berfirman:

لَقَدْ جَآءَكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِٱلْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ

“Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin,” (QS. Al-Taubah: 128)

Sebagian para mufassir mengatakan bahwa makna “Dari Kaummu sendiri,” yakni Rasulullah SAW diciptakan dari keturunan bani Adam yang diturunkan kepada mereka sebagai bentuk kasih sayang untuk mereka.

Dalam suatu kisah, Rasulullah SAW pernah merasakan sangat lapar. Akhirnya karena tak tahan beliau keluar rumah, karena di dalam rumahnya tersebut, Rasulullah tidak menemukan makanan sama sekali. Di saat yang sama beliau bertemu dengan sahabatnya Abu Bakar Shiddiq.

“Wahai Abu Bakar, apa yang membuatmu keluar rumah diterik matahari seperti ini?” tanya Rasulullah.

“Aku sedang merasa sangat lapar Wahai Rasulullah,” jawab Abu Bakar.

Tak disangka, dipertengahan jalan, mereka berdua bertemu dengan Sayyidina Umar bin Khattab. Lantas keduanya bertanya kepada Sayyidina Umar.

“Wahai Umar, apa yang membuatmu keluar diterik matahari seperti ini?” tanya Rasulullah.

Mendengar pertanyaan tersebut Umar menjawab, “Aku merasa sangat lapar Wahai Rasulullah,” jawab Umar.

Sebelumnya, Sayyidina Abu Bakar dan Umar sama-sama belum tahu maksud dan tujuan Rasulullah keluar dari rumahnya juga, kemudian mereka bertanya kepada Rasulullah.

“Wahai Rasulullah, apa yang membuat dirimu juga keluar dari rumah diterik matahari ini?” tanya keduanya.

“Aku pun sama seperti kalian, aku juga merasa sangat lapar, sedangkan di rumahku tidak ada apa-apa,” jawab Rasulullah.

Karena ketiganya sedang merasa sangat lapar dan di rumah masing-masing di antara mereka tidak ada makanan sama sekali, Rasulullah memiliki ide untuk mendatangi Abu Ayyub al-Anshari.

Akhirnya ketiganya datang untuk menemui Abu Ayyub al-Anshari, memang biasanya Abu Ayyub setiap hari menyiapkan hidangan untuk Rasulullah SAW walaupun terkadang Rasulullah tidak mendatanginya.

Sesampainya di rumah Abu Ayyub, Istri beliaulah yang menemui mereka. Istri Abu Ayyub yang memang mengetahui kedatangan Rasulullah dan sahabat-sahabatnya berkata dibalik tirai, “Ya Rasulullah, suamiku ada dikebun kurma. Dia sedang mengerjakan sesuatu,”

Ketika itu, Abu Ayyub al-Anshari datang dari arah berlawan dan berkata, “Selamat datang Wahai Rasulullah dan sahabat-sahabatku,”

Merekapun bercakap-cakap, akan tetapi Abu Ayyub berkata di dalam hatinya, “Tidak biasanya Rasulullah dan sahabat-sahabatku ini datang di tengah hari,”

Akhirnya Abu Ayyub meninggalkan mereka untuk mengambil kurma, dari yang kering, basah dan setengah masak. Sengaja beliau mengambil sebanyak itu agar nanti bisa dipilih oleh Rasulullah dan sahabatnya mana yang mereka sukai.

Belum selesai dari situ, Abu Ayyub juga menyembelih kambingnya yang paling gemuk. Dalam hatinya, ia khawatir Rasulullah dan sahabatnya menunggu lama. Walaupun Rasulullah tidak mengutarakan maksud dan tujuannya datang ke rumah Abu Ayyub, sebagai tetangga yang paling dekat dengan mereka, ia yakin benar bahwa kedatangan mereka pasti untuk mencari makanan.

Abu Ayyub membagi dua sembelihannya. Separuh untuk digulai separuhnya lagi untuk dipanggang, kemudian ia juga membuat sebuah roti. Setelah masak, semuanya itu dihidangkan untuk Rasulullah, Abu Bakar dan Umar.

Karena hari sudah sangat siang mereka menyantap makanan tersebut, sebagian dari potongan gulai kambing ia antarkan ke rumah Rasulullah, karena ia yakin keluarganya juga merasakan lapar yang sangat.

Ketika Abu Ayyub sudah kembali kerumahnya, ia melihat Rasulullah, Abu Bakar dan Umar telah selesai menyantap hidangannya. Tetapi Abu Ayyub justru gundah melihat ada air mata yang mengalir di pipi Rasulullah.

“Kenapa ya Rasulullah?” tanya Abu Ayyub.

Kanjeng Nabi berkata, “Roti, daging, kurma kering, kurma basah, dan setengah kering, gulai dan kambing panggang. Demi Allah yang jiwaku di tangan-Nya”, lantas beliau mengutip sebuah ayat ;

ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ

“Maka sesungguhnya beginilah nikmat yang kalian minta di hari kiamat nanti.”

Ternyata Rasulullah sedih bukan karena kesengsaran, melainkan ia sedih karena terharu dengan pemberian nikmat yang Allah SWT berikan kepadanya serta kepada sahabat-sahabatnya.

Lalu, apakah kita sudah bersyukur hari ini?

Waallahu a’lam

(Rizky Zulkarnain)

(Arie Saputra)