Activists protest against the upcoming Singapore meeting between Taiwan's President Ma Ying-jeou and Chinese President Xi Jinping outside Taipei Songshan airport, November 7, 2015. Leaders of political rivals Taiwan and China meet for the first time in more than 60 years on Saturday for talks that come amid rising anti-Chinese sentiment on the self-ruled democratic island and weeks ahead of elections. The placards read,"Ma Ying-jeou dont come back." "Ma Ying-jeou treason." "Sell Taiwan out." REUTERS/Pichi Chuang TPX IMAGES OF THE DAY *** Local Caption *** Pendemo memrotes pertemuan antara Presiden Taiwan Ma Ying-jeou dan Presiden Tiongkok Xi Jinping di Singapura di luar bandara Taipei Shongshan, Sabtu (7/11). Pemimpin politik Taiwan dan Tiongkok bertemu untuk pertama kalinya pada setelah lebih dari 60 tahun pada hari Sabtu untuk berrdialog ditengah meningkatnya sentimen anti-Tiongkok di pulau pemerintahan demokratis dan menjelang pemilihan selanjutnya. Plakat-plakat bertuliskan "Ma Ying-jeou jangan kembali.", "Ma Ying-jeou berkhianat.", "Menjual Taiwan." REUTERS/Pichi Chuang/cfo/15

Taipei, Aktual.com – Ratusan pengunjuk rasa yang marah, berkumpul di luar kantor Presiden Taiwan Ma Ying Jeou, Sabtu (7/11), mengutuk pertemuannya dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping yang telah menimbulkan kekhawatiran demokratisasi di kepulauan dilindas oleh raksasa Tiongkok.

Pembicaraan kedua kepala negara itu dipuji sebagai momentum bersejarah untuk mengakhiri permusuhan selama beberapa dekade antara kedua belah pihak setelah perang sipil, namun memicu reaksi dari rakyat Taiwan yang curiga atas pemulihan hubungan yang diprakarsai Ma.

Para demonstran yang marah mencoba berunjuk rasa di gedung parlemen sepanjang malam dan 27 orang diamankan di bandar udara, Sabtu, sebagai tempat pemberangkatan Ma menuju tempat pertemuan dengan lawannya dan menganggap Ma menjual diri kepada Beijing yang ingin memperluas pengaruhnya.

Kemudian lebih dari 500 pengunjuk rasa mewakili beberapa kelompok termasuk petani, aktivis HAM, dan aktivis lingkungan, berkumpul di hotel Singapura tempat Ma bertemu Xi dan mereka sudah “merasa seperti teman-teman”.

“Bagaimana bisa dia (Ma), tanpa beberapa negosiasi menuju pertemuan dengan pemimpin yang menjadi musuh kami? Saya percaya ini berada pada level pengkhianatan,” kata Wakil Ketua Taiwan Association of University Professors, Lin Hsiu Hsin, seperti dikutip AFP.

Para pemimpin pengunjuk rasa marah atas komentar Xi bahwa kedua belah pihak “satu keluarga” dan tidak pernah dapat dipisahkan — mengacu pada posisi Tiongkok Daratan yang tidak berubah bahwa Taiwan adalah provinsi terpisah yang menunggu reunifikasi.

“Xi Jinping mengatakan kita termasuk bagian dari satu Tiongkok. Dapatkah kamu menerimanya?” teriak Lee Ken Cheng dari kalangan Partai Hijau yang skeptis terhadap Beijing.

“Tidak!” jawab massa pengunjuk rasa.

Kecurigaan Di bawah Ma, hubungan dengan Tiongkok terus berkembang, terutama menjelang pemilihan presiden, namun perekonomian masih lesu dan para kritikus mengatakan bahwa transaksi ekonomi hanya menguntungkan para pebisnis besar, bukan masyarakat biasa Taiwan.

Ada kecurigaan yang mendalam atas pertemuan tersebut, yang diumumkan kurang dari sepekan yang lalu, dan mengkhawatirkan campur tangan Tiongkok yuang berupaya mengamankan kemenangan Partai Kuomintang yang dalam jajak pendapat menuai hasil buruk.

“Kami khawatir mereka bisa saja menandatangani beberapa kesepakatan rahasia. Presiden ini dengan hanya sembilan persen dukungan tidak mewakili kami. Kami takut menjadi bagian dari Tiongkok,” kata Peggy Wu, seorang peneliti berusia 28 tahun.

(Ant)

()