Jakarta, Aktual.com – Realisasi tanam tembakau di Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur hingga Juli 2017 seluas 7.224,60 hektare, dari rencana tanam 10.774 hektare, sehingga realisasi tanam tersebut sudah mencapai 67,06 persen.

“Masa tanam tembakau jenis Voor Oogst Paiton di Kabupaten Probolinggo dimulai sejak Mei-Juli 2017. Pada kurun waktu itu, realisasi tanam jauh dari rencana tanam yang telah ditetapkan, sehingga sosialisasi dan saran kami agar lahan tembakau dikurangi bisa dikatakan berhasil,” ujar Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Probolinggo Ahmad Hasyim Ashari, Minggu (6/8).

Pemkab Probolinggo mengklaim bahwa realisasi tanam tembakau tersebut dipengaruhi program subtitusi lahan tembakau ke komoditas lain, seperti padi, jagung dan bawang merah.

Ia mengatakan asumsi produksi tembakau di Kabupaten Probolinggo yakni sebesar 1,2 ton tembakau kering per hektare, sedangkan pabrikan membutuhkan tembakau maksimal 12.191 ton dengan rencana lahan seluas 10.774 hektare.

“Dengan realisasi tanam hanya sekitar 7.224,60 hektare, maka asumsi produksi kurang lebih 9.000 ton tembakau kering. Sesuai hukum ekonomi, jika persediaan lebih sedikit daripada permintaan, maka dimungkinkan harga akan naik dan hal itu yang diharapkan oleh petani tembakau,” tuturnya.

Pemkab Probolinggo mensosialisasikan supaya petani mengurangi lahan tembakau dengan tujuan agar tidak terjadi kelebihan produksi yang menyebabkan rendahnya harga jual tembakau di tingkat petani.

“Upaya Pemkab menekan perluasan areal tanam tembakau diwujudkan pula dalam bentuk subtitusi lahan tembakau ke lahan nontembakau dengan memberikan bantuan berupa benih komoditas padi, jagung dan bawang merah kepada petani. Jumlah benih itu untuk tanam di lahan seluas 2.669 hektare,” katanya.

(Ismed Eka Kusuma)