Komisioner Komnas HAM Penyelidikan M Choirul Anam

Jakarta, Aktual.com – Komisi Nasional Hak Asasi Manusia ( Komnas HAM ) menyayangkan tak ada adegan penembakan gas air mata dalam rekonstruksi tragedi Kanjuruhan yang dilakukan kepolisian.

Padahal menurut Komnas HAM, penyebab utama tragedi di stadion Kanjuruhan murni merupakan tembakan gas air mata yang dilakukan oleh aparat kepolisian.

“Sekali lagi kami tegaskan bahwa dia (gas air mata) penyebab utamanya. Ketika proses rekonstruksi macam-macam tidak ada narasi itu (tembakan gas air mata), itu memang didukung oleh banyak pihak,” ujar Anam di Kantor Komnas HAM, (24 /10).

Padahal menurut Anam, penyebab tragedi Kanjuruhan akibat gas air mata bisa terlihat dari video yang beredar saat ini.

Bahkan lontaran gas air mata yang menjadi penyebab 135 pendukung Arema meninggal dunia itu juga terekam oleh CCTV.

“Video itu banyak, artinya sebenarnya bisa mendasarkan pada video yang maupun pada video yang dimiliki oleh penyidik ​​itu sendiri,” imbuh Anam.

Namun sangat, kata Anam, rekonstruksi yang dilakukan hanya berdasarkan pengakuan atau keterangan dari tersangka saja

“Harusnya memang teman-teman kepolisian, khususnya penyidik ​​menjelaskankn bahwa ada dasar yang lain. Apa itu? Ya berupa video yang beredar, yang beredar luas. Semua orang melihat video itu memang ada tembakannya ke tribune,” tutur Anam.

Sebelumnya, rekonstruksi tragedi Kanjuruhan yang digelar di lapangan Mapolda Jawa Timur, Rabu (19/10), tidak menyajikan adegan penembakan gas air mata ke arah tribune.

Semua tembakan yang diperagakan mengarah ke setel ban atau pinggir lapangan.

Di sisi lain, dari membuktikan Aremania dan rekaman video yang beredar luas, ada tembakan yang diarahkan ke tribun penonton.

Adapun adegan penembakan yang direka ulang adalah atas perintah Danki 3 Satuan Brimob Polda Jatim AKP Hasdarman. Hal itu tergambar pada adegan ke-19 hingga ke-25.

Tragedi Kanjuruhan terjadi pada 1 Oktober 2022 saat laga Liga 1 Arema Malang melawan Persebaya Surabaya.

Peristiwa itu menelan 133 korban jiwa yang tewas karena sesak nafas dan terinjak-injak setelah aparat kepolisian menembakkan gas air mata ke tribun penonton.

(Arie Saputra)