Ribuan peserta mengikuti prosesi Deklarasi Revolusi Mental di mulai dari Pendidikan di Lapangan Hall Basket, Senayan, Jakarta, Selasa (15/12). Deklarasi tersebut bertujuan meneguhkan peran Kementerian Agama dalam mewujudkan perubahan ke arah yang lebih baik yang dimulai dari pendidikan agama, perubahan pola pikir dan karakter. ANTARA FOTO/M Agung Rajasa/nz/15.

Jakarta, Aktual.com – Indonesia seharusnya memiliki satu filosofi revolusi karakter dan mental yang sama agar proses pemantapan karakter bangsa yang akan memakan waktu lama akan terus berlanjut, meski pemerintahan berganti, menurut pengamat sosial Devie Rahmwati.

“Saya optimistis akan terjadi revolusi karakter bila setiap pemimpin punya kesepakatan yang sama tentang apa yang akan dicapai di masa mendatang. Kita lihat negara-negara lain, saat ganti pemimpin, filosifinya ketika mereka memiliki visi yang sama apa yang sudah dilakukan terus dilakukan,” ujar pengamat sosial vokasi dari Universitas Indonesia itu ketika dihubungi di Jakarta, Senin (14/10).

Menurutnya, revolusi karakter dan mental Indonesia adalah proses panjang yang hasilnya tidak akan terlihat dalam waktu dekat, bahkan bisa bertahun-tahun.

Oleh karena itu, katanya, jika terjadi pergantian pemimpin dengan visi yang berbeda maka pembangunan karakter dan mental tersebut akan terganggu.

Karena itu, ujar Devie, diperlukan ketulusan dari para pemimpin memiliki satu visi yang sama karena sebagai pemilik kekuasaan akan menentukan arah pembangunan karakter yang akan diikuti oleh rakyat.

Jika tidak ada satu filosofi dan visi pembangunan karakter yang sama, ujar dia, maka tujuan perubahan tidak akan bisa terwujud karena akan terus berganti arah sesuai dengan kepentingan pemimpin yang tengah berkuasa.

Peran penting pemimpin juga ditegaskan oleh sosiolog Nia Elvina. Menurut dia, pemimpin negara, seperti Presiden adalah salah satu model yang akan diikuti oleh rakyat untuk menjadi contoh dalam revolusi karakter dan mental.

Sosiolog dari Universitas Nasional itu menegaskan implementasi atau percontohan perilaku para pemimpin negara harus sesuai dengan visi dan falsafah bangsa untuk melahirkan karakter yang lebih baik.

“Masyarakat kita masih sangat kental menganut nilai patron-klien, atau dengan kata lain perilaku pemimpin akan segera diikuti oleh pengikut atau masyarakat.
Sehingga yang paling efektif dilakukan pemerintah adalah implementasikan oleh Presiden dan tataran elite perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila,” katanya.

Indonesia kini sedang bersiap dengan pembangunan yang berfokus pada sumber daya manusia (SDM), sesuai dengan visi yang dikemukakan Presiden Joko Widodo untuk masa pemerintahannya 2019-2024.

Menurut Nia Elvina, pembangunan mutu SDM tidak hanya mengenai pendidikan dan kemampuan teknis, tapi juga perilaku dan mental untuk menghadapi Revolusi Industri 4.0.

(Arbie Marwan)