Jakarta, Aktual.com – Bank Indonesia (BI) melihat laju pertumbuhan ekonomi global yang masih penuh risiko membuat pertumbuhan ekonomi dalam negeri berjalan stagnan. Hal ini membuat hingga akhir tahun ekonomi akan tumbuh stagnan di 5 persen saja.

Agus Martowardojo, Gubernur BI menegaskan, masih tingginya prospek dan tantangan ekonomi ke depan membuat risiko ekonomi masih tinggi. Sehingga sampai akhir tahun hanya bisa mencapai 5,05 persen.

“Pertumbuhan ekonomi global akan terkoreksi, tentu ini akan berisiko. Sehingga sampai akhir tahun kami perkirakan pertumbuhan ekonomi hanya akan mencapai 5,05 persen,” jelas Agus di Jakarta, Kamis (28/12).

Agus menegaskan, meski tetap 5 persen, tapi dalam tiga tahun ini terus meningkat. Pada tahun 2015, pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya 4,88 persen. Setahun kemudian, pertumbuhan ekonomi Indonesia membaik jadi 5,02 persen. Dan tahun ini bisa di angka 5,05 persen.

Pihak bank sentral, kata dia, telah menyambut baik upaya pemerintah sehingga membuat terjadinya perbaikan laju investasi dan ekspor sejak awal 2017 ini. Selain itu, impor juga menunjukkan kondisi meningkat.

“Peningkatan impor sebagai indikator yang positif. Karena, ini menunjukkan bahwa dunia usaha telah mempersiapkan diri untuk siklus ekonomi berikutnya. Mereka telah berbenah untuk menggenjot kapasitas bisnisnya guna membuat kondisi ekonomi lebih baik,” kata dia.

Namun begitu, dia juga memprediksi di tahun depan kondisi bisa lebih baik meskipun sejumlah risiko jangka pendek dari perekonomian global masih tinggi. Hal itu pun akan menjadi perhatian BI. Makanya bank sentral ini memperkirakan pemulihan ekonomi global 2018 tidak sekuat perkiraan.

“Untuk itu, pertumbuhan ekonomi di 2018 kami perkirakan di range antara 5,1-5,5 persen. Sementara jika reformasi kebijakan ekonomi terus berlangsung, maka pada tahun 2022 nanti ekonomi Indonesia bisa melaju antara 5,8-6,2 persen,” tutup dia.

(Reporter: Busthomi)

(Eka)