Yogyakarta, Aktual.com — Ribuan warga Yogyakarta mengikuti tradisi ‘tapa bisu lampah mubeng beteng’ atau diam membisu berjalan mengelilingi benteng Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat dalam memperingati Tahun Baru Jawa 1 Sura, Kamis (15/10) dini hari.

Ribuan warga bersama para Abdi Dalem Keraton berkumpul di halaman Keben Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat sejak Rabu (14/10) pukul 21.00 WIB.

Acara ritual tahunan tersebut diawali dengan pembacaan ‘tembang macapat’ dan doa yang dipimpin oleh Abdi Dalem Keraton, demikian kata KRT Projo Suwasono.

Selanjutnya, tepat pukul 24.00 WIB ribuan warga baik penduduk asli Yogyakarta, maupun pendatang beserta Abdi Dalem mulai menjalankan ritual budaya tersebut, setelah dilepas oleh Adik Sultan HB X, Gusti Bendoro Pangeran Haryo (GBPH) Prabukusumo.

Mereka menyusuri jalan tanpa berbicara mengelilingi seluruh benteng Keraton yang berjarak sekitar lima kilometer.

Ritual itu dimulai dari Keben Keraton menuju Jalan Retowijayan, Jalan Kauman, Jalan Agus Salim, Jalan Wahid Hasyim hingga Pojok Beteng Kulon, Jalan Mayjen MT Haryono samapai Pojok Benteng Wetan, Jalan Brigjen Katamso, Jalan Ibu Ruswo, Alun-alun Utara dan berakhir di Keben Keraton.

Ketua panitia acara Lampah Budaya Mubeng Beteng Keraton, Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Gondohadiningrat memperkirakan, peserta ritual malam itu mencapai 4.000 orang.

Sementara itu, GBPH Prabukusumo mengatakan, bahwa ritual ‘tapa bisu mubeng beteng’ memiliki filosofi agar masyarakat mampu merenungi diri seraya memanjatkan doa kepada Tuhan agar diberi keselamatan hingga tahun berikutnya.

“Tapa bisu bukan berarti hanya berdiam saja, melainkan mengintrospeksi apa yang telah kita lakukan setahun yang lalu, prihatin, mawas diri,” kata dia.

Kapala Bidang Sejarah Purbakala Dinas Kebudayaan DIY, Erlina Hidayati mengatakan, keberlangsungan ritual budaya itu harus terus dilestarikan, baik oleh Keraton maupun masyarakat Yogyakarta.

Oleh sebab itu, menurut Erlina, ritual itu telah masuk sebagai warisan budaya tak benda Indonesia asal DIY pada 2015.

“Kami minta warga Yogyakarta menjaga tradisi itu agar lestari,” demikian kata dia.

(Ant)

()