Ilustrasi Uang Pecahan Seratus Ribu Rupiah, Lima Puluh Ribu Rupiah dan Seratus Dollar AS
Ilustrasi Uang Pecahan Seratus Ribu Rupiah, Lima Puluh Ribu Rupiah dan Seratus Dollar AS

Jakarta, Aktual.com – Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Selasa berpeluang menguat di tengah sentimen kenaikan suku bunga yang agresif oleh bank sentral Amerika Serikat The Federal Reserve (The Fed).

Rupiah pagi ini melemah 8 poin atau 0,05 persen ke posisi Rp14.850 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp14.842 per dolar AS.

“Peluang rupiah menguat hari ini terhadap dolar AS masih terbuka, dengan membaiknya sentimen pasar terhadap risiko,” kata pengamat pasar uang Ariston Tjendra saat dihubungi di Jakarta, Selasa (13/9).

Ariston menyampaikan, indeks saham Asia bergerak positif pagi ini mengikuti pergerakan positif indeks saham AS dan Eropa semalam.

Dolar AS yang masih berkonsolidasi menjelang pengumuman kebijakan The Fed pekan depan juga bisa membantu penguatan rupiah.

Kendati demikian, lanjut Ariston, memang sentimen The Fed masih besar karena ekspektasi kenaikan suku bunga acuan AS sebesar 75 basis poin meninggi.

“Terkini, menurut CME FedWatch tool, probabilitasnya sebesar 91 persen. Jadi, ini menjadi alasan pelemahan rupiah,” ujarnya.

Sementara dari dalam negeri, Ariston menilai persoalan kenaikan harga bahan bakar minyak atau BBM yang memicu inflasi masih bisa menjadi penekan rupiah.

Ariston memperkirakan hari ini rupiah akan bergerak di kisaran level Rp14.820 per dolar AS hingga Rp14.860 per dolar AS.

Pada Senin (12/9/2022) lalu, rupiah ditutup melemah 12 poin atau 0,08 persen ke posisi Rp14.842 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp14.830 per dolar AS.

(Arie Saputra)