Jakarta, Aktual.co — Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta bergerak menguat sebesar 31 poin menjadi Rp11.994 dibandingkan posisi sebelumnya Rp12.025 per dolar AS.

“Sentimen dari eforia pemerintahan baru kembali menopang mata uang rupiah untuk melanjutkan penguatan berada di bawah level Rp12.000 per dolar AS,” kata pengamat pasar uang Bank Himpunan Saudara Rully Nova di Jakarta, Selasa (21/10).

Rully Nova menambahkan bahwa pada pemerintahan baru ini, investor mengharapkan program Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) dapat terus berlanjut sehingga dapat memberikan efek positif bagi pertumbuhan sektor lain.

“Berkembangnya infrastruktur akan mendorong investasi tumbuh di dalam negeri sehingga perekonomian domestik akan terdorong,” katanya.

Di sisi lain, lanjut dia, masih adanya spekulasi perlambatan pertumbuhan global akan membuat bank sentral AS (the Fed) untuk menunda waktu kenaikan suku bunganya masih membebani laju dolar AS terhadap mayoritas mata uang dunia.

Ekonom Samuel Sekuritas Rangga Cipta menambahkan bahwa eforia dari situasi domestik masih menopang mata uang rupiah terhadap dolar AS meski dibayangi proyeksi negatif dari produk domestik bruto (PDB) Tiongkok yang melambat.

“Data PDB Tiongkok bisa menghadirkan tekanan pelemahan terhadap seluruh mata uang di Asia, termasuk rupiah,” kata Rangga.

Di sisi lain, lanjut dia, pengumuman susunan kabinet pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla juga masih ditunggu oleh investor.

()

(Eka)