Foto kombo Menkeu Bambang Brodjonegoro memberikan keterangan terkait realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan 2015 di Gedung kemkeu, Jakarta, Rabu (5/8). Realisasi pendapatan negara pada semester pertama mencapai Rp.771,4 triliun atau 43,8 persen sedangkan realisasi belanja negara mencapai Rp.913,5 triliun atau 46 persen dari pagu belanja negara. ANTARA FOTO/Wahyu Putro A/nz/15

Jakarta, Aktual.com — Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro mengatakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang kembali melemah ke level Rp14.200 karena didorong aksi spekulasi pelaku pasar. Pelaku pasar merespons perkiraan makin dekatnya kenaikan suku bunga Bank Sentral Amerika Serikat setelah perbaikan data ketenagakerjaan di negara tersebut.

“Hari-hari ini kan semua berspekulasi karena AS, tingkat penganggurannya turun. Spekulasi bahwa AS akan segera menaikkan tingkat suku bunganya,” kata Menkeu Bambang Brojonegoro di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (8/9).

Spekulasi itu, menurut dia, juga makin menguat seiring dengan ekspetasi pasar yang sudah terbentuk sekian lama bahwa kenaikan suku bunga The Fed bisa terealisasi pada Semester II 2015.

“Ini ‘pure’ karena spekulasi,” ujar dia.

Menurut Bambang, pemerintah dan Bank Indonesia sudah memasang langkah-langkah untuk memitigasi imbas negatif terhadap pasar keuangan domestik akibat salah satu fenomena ketidakpastian ekonomi global tersebut.

Langkah-langkah tersebut, kata dia, di antaranya memastikan reformasi struktural perekonomian terus berjalan. Kemudian, menjaga cadangan devisa dalam jumlah aman, atau setidaknya dapat digunakan untuk 6 bulan impor.

Pemerintah juga sudah menyiapkan paket kebijakan ekonomi terbaru yang akan diumumkan pada hari Rabu (9/9). Salah satu isi paket kebijakan tersebut akan menyentuh sektor fiskal dan keuangan. Sementara itu, Bank Indonesia melaporkan cadangan devisa hingga Agustus 2015 sebesar 105,34 miliar dolar AS.

Namun, nilai tukar rupiah sepanjang Selasa belum menunjukkan pemulihan. Berdasarkan nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank pada Selasa sore, rupiah bergerak melemah sebesar 10 poin menjadi Rp14.276 dibandingkan Selasa pagi di posisi Rp14.266 per dolar AS.

“Pelemahan pada mata uang di negara-negara berkembang masih berlanjut, termasuk di Indonesia, dan belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Pelaku pasar masih melakukan aksi hindar terhadap mata uang berisiko menyusul potensi The Fed menaikkan suku bunganya,” kata Kepala Riset Monex Investindo Futures Ariston Tjendra.

Ariston menambahkan bahwa aksi hindar aset berisiko oleh pelaku pasar uang di dalam negeri juga seiring dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang dinilai masih akan melambat sehingga meredupkan minat investasi terhadap aset-aset domestik.

“Aktivitas ekonomi dinilai masih lesu. Situasi itu menahan investasi masuk ke Indonesia. Diharapkan beberapa kebijakan yang akan dikeluarkan pemerintah Indonesia dapat mendorong aktivitas ekonomi domestik,” katanya.

()

(Eka)