Petugas Bank Mandiri menghitung pecahan uang rupiah dan dollar Amerika Serikat di Jakarta, Jumat (18/3). Nilai tukar rupiah melanjutkan penguatannya dengan terapresiasi 0,27 persen atau 35 poin ke level Rp13.040 per dolar AS pada pembukaan perdagangan Jumat (18/3). ANTARA FOTO/Widodo S. Jusuf/nz/16.

Jakarta, Aktual.com – Belakangan rupiah mengalami penguatan di kisaran Rp12.900-an per dolar Amerika Serikat (USD). Diperkirakan, penguatan rupiah ini gara-gara dana dari pengampunan pajak (tax amnesty) yang masuk dan ditambah dana valuta asing (valas) dari program tersebut.

Namun, Bank Indonesia (BI) malah merasa tidak nyaman jika rupiah terlalu menguat. Menurut perkiraan BI, nilai tukar rupiah yang dianggap nyaman masih di kisaran Rp13.200-Rp13.300 per USD.

“Saat raker dengan Komisi XI DPR dan Banggar (Badan Anggaran) DPR, di 2017 nanti proyeksi kami di angka Rp13.300-13.600. Tapi kemudian pada situasi terakhir, kami pertajam menjadi Rp13.200-13.500 per USD,” ujar Gubernur BI, Agus Martowardojo, di Gedung DPR/MPR, Jakarta, Kamis (29/9).

Namun demikian, kata dia, angka proyeksi BI tersebut adalah rata-rata dalam setahun. Dan jika angka yang diputuskan oleh Komisi XI di angka Rp13.300/USD, BI sendiri menyambut baik. Bahkan menurutnya, itu angka yang tepat.

“Tapi kalau mau dikuatkan menjadi Rp13.200/USD kami pun nyaman. Meski memang angka yang kami rasa paling tepat ada di Rp13.300 per USD,” ungkap Agus.

Dengan demikian, lanjut Agus Marto, jika saat ini laju rupiah berada di kisaran Rp12.900-an, nantinya pun akan kembali di rentang Rp13.200-13.500 per USD.

“Karena kita tahu, bahwa angka ini (penguatan rupiah) karena ada unsur besarnya dana balas yang masuk dan berperan terhadap penguatan rupiah,” tegas dia.

Untuk itu, kata dia, asumsi nilai tukar rupiah dalam Rancangan APBN 2017 sendiri akan terus didiskusikan di DPR, dan sepertinya angkanya tak jauh berbeda dengan proyeksi BI, kendati saat ini rupiah terus terapresiasi.

“Kami memang belum pertimbangkan dengan kondisi sekarang. Makanya, kita akan diskusikan di Panja. Jadi rupiah dijaga sesuai fundamental yang tercermin dari inflasi yang rendah dan terjaga, neraca transaksi berjalan yang terjaga, pertumbuhan ekonomi, serta mencerminkan fundamentalnya,” papar dia.

Di tempat yang sama, Anggota Komisi XI DPR asal Fraksi Gerindra, Kardaya Warnika mempertanyakan kebijakan BI yang terus memprediksi rupiah di atas Rp13.000-an. Padahal potensi di bawah angka itu mulai terlihat.

“Waktu rapat panja antara pemerintan dan BI, saya pertanyakan waktu itu apa tidak mungkin rupiah bisa turun paling tidak di bawah Rp13 ribu per USD. Tapi BI malah menyatakan akan tetap menjaga stabilitas rupiah, bagaimana cara menjaga stabilitas rupiah itu? Harus diperjelas,” tandasnya.

Karena, kata dia, kalau dalam menjaga rupiah dengan mengintervensi pasar jangan sampai menggerus cadangan devisa (cadev) terlalu banyak.

“Jadi sejauh mana sebenarnya peran BI selama ini dalam menjaga rupiah. Sehingga meskipun rupiah menguat tapi BI tetap ngotot angka fundamentalnya di Rp13 ribuan. Sejauh mana akuntabilitas dan tanaparansi peran BI ini? Dan prediksi BI berapa penguatan rupiah ke depannya? Itu harus dijelaskan BI,” cetus Kardaya.
*Busthomi

()