Suasana penutupan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (8/11). Pada perdagangan hari ini berakhir memerah setelah kemarin berhasil mencetak rekor tertinggi. Bursa saham Tanah Air ditutup turun ke level 6.049,38 atau melemah 11,07 poin setara dengan 0,18%. AKTUAL/Tino Oktaviano

Jakarta, Aktual.com – Analis Pasar Modal, Reza Priyambada mengatakan bahwa pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang pekan lalu mampu kembali melanjutkan kenaikannya seiring dengan adanya penguatan yang cukup signifikan di awal pekan. Laju IHSG mendapat sentimen positif dari rilis kenaikan pertumbuhan GDP yang di atas estimasi pelaku pasar dan dibarengi dengan penguatan Rupiah.

Meski demikian, penguatan yang terjadi tidak mampu bertahan lama bahkan hingga akhir pekan seiring adanya rilis penurunan cadangan devisa, melebarnya defisit neraca pembayaran, hingga imbas melemahnya sejumlah mata uang terhadap USD karena terpengaruh penurunan tajam dari mata uang Lira Turki.

“Pergerakan IHSG di pekan kemarin naik 1,16 persen atau lebih tinggi dari pekan sebelumnya yang naik 0,31 persen. Adapun high level yang diraih mencapai 6117,29 di atas sebelumnya di 6055,07 dan level terendah yang dicapai mencapai 6059,99 dari sebelumnya 5994,04,” ujar Reza di Jakarta, Minggu (12/8).

Selain itu, lanjutnya, Asing mencatatkan nett sell Rp825,32 miliar dari pekan sebelumnya nett buy Rp 1,13 triliun. Mulai adanya aksi jual kian menambah nilai penjualan bersih investor asing sehingga masih tercatat jual bersih Rp 48,84 triliun di atas sebelumnya yang masih net sell Rp 48,02 triliun (YTD).

“Terkait pergerakan IHSG di pekan depan, diperkirakan IHSG akan berada pada kisaran level support 6023-6038 dan resisten 6118-6129 dibandingkan pekan sebelumnya di level support 5978-5988 dan resisten 6027-6043,” jelasnya.

Pergerakan IHSG yang menguat terbatas sepanjang pekan kemarin seiring dengan adanya sentimen negatif yang lebih dominan dibandingkan sentimen positif di awal pekan. Aksi jualpun diperkirakan akan kembali terjadi, terutama jika laju Rupiah tidak mampu bertahan positif seiring penguatan laju USD.

“Pergerakan IHSG pun akan berharap dari sentimen regional yang diharapkan dapat positif untuk mengimbangi potensi pelemahan yang terjadi. Jika tidak, tetap mewaspadai terhadap sentimen yang dapat membuat laju IHSG kembali melemah,” pungkasnya.

(Eka)