Jakarta, Aktual.com – Rivalitas tim nasional Indonesia melawan Malaysia sudah memanas sejak awal masa 1960-an, ketika situasi politik menyeret kedua negara serumpun ke tepian konflik.

Akan tetapi, hampir 60 tahun sesudahnya, sejuk hubungan kedua negara ternyata tidak serta merta berimbas ke lapangan sepak bola.

Pendukung fanatik kedua kesebelasan menganggap laga ini layaknya pertaruhan nama bangsa. Rivalitas itu tidak surut meski zaman terus bergulir.

Isu-isu nonteknis kerap kali membuat pertandingan kedua tim berjalan keras disertai drama. Tidak perlu mundur jauh-jauh, pada final Piala AFF 2010, kontroversi sempat terjadi setelah penjaga gawang Indonesia Markus Horison menduga dirinya diserang laser dalam laga leg pertama yang digelar di Stadion Nasional Bukit Jalil, Kuala Lumpur.

Dalam laga tersebut, Indonesia kalah 0-3 dan gagal juara setelah di leg kedua hanya menang dengan skor 2-1.

Situasi panas tersebut terasa ke laga perebutan medali emas sepak bola putra SEA Games 2011 timnas U-23 Indonesia versus Malaysia di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, yang kembali dimenangi Malaysia dengan adu penalti.

(Abdul Hamid)