Jakarta, Aktual.co — Telinga terasa berat seperti layaknya naik pesawat terbang di kala kereta cepat yang membawa rombongan Forum Silaturahmi Kulaan banjar Banua (FSKB) dan penumpang lainnya menaiki Bukit Bendera di Kota Penang, negeri Penang, Malaysia.
Hanya saja gerbong yang ditumpangi tersebut terlalu sesak oleh pengunjung, sehingga pandangan tak leluasa melihat kiri dan kanan yang berada di tengah hutan lebat bukit yang menjadi objek wisata andalan tanah Melayu tersebut.
Dari perjalanan naik kereta listrik cepat dari bawah ke puncak Bukit Bendera setinggi 830 meter itu, gerbong beberapa kali berhenti, saat itu tampak suasana alam hutan yang masih alami, aneka tanaman hutan seperti layaknya hutan tropis yang ada di Banua (Kalimantan Selatan).
Anggota FSKB, Mohamad Ary yang juga ketua rombongan dalam perjalanan muhibah ini menuturkan, setelah melakukan perjalanan selama sembilan hari 17-26 Oktober 2014 banyak pengalaman yang didapat dalam upaya menyambangi pemukiman-pemukiman Suku Banjar yang berada di negeri seberang tersebut.
Dalam beberapa kali pertemuan antara kedua belah pihak sepakat menjalin persaudaraan yang lebih dekat, dengan tujuan eratkan hubungan kekeluargaan yang selama ini agak terputus, sekaligus sebagai wadah atau wahana bagi siapa saja dikedua belah pihak untuk mencari juriat di dua negara berbeda tersebut.
Menurut Mohamad Ary, banyak Suku Banjar yang sudah lama bermukim di Malaysia ingin mencari juriat keluarga yang ada di banua asal Kalimantan selatan, tetapi setelah hubungan lama terputus sekarang sudah kehilangan jejak untuk mencari juriat tersebut.
Atau sebaliknya warga Banua di kalsel yang sudah kehilangan jejak pula untuk mencari juriat keluarga yang madam (merantau) ke Malaysia puluhan bahkan ratusan tahun silam.
Melalui FSKB dan Kulaan Malaysia inilah akan menjadi jembatan bagi mereka yang terputus hubungan keluarga tersebut untuk saling mengetahui kedua belah pihak, dan kalau perlu dipertemukan.
Sebagai Contoh saja, Mdnoh Rahidin keturunan Banjar Kalsel yang lama tinggal di Negeri Malaka, yang sempat menitikkan air mata setelah bertemu dengan rombongan FSKB tersebut.
Sebab ia tahu cerita keluarga hanya dari almarhum ayahnya yang sudah lama meninggal dunia, dan ayahnya berpesan ia harus mencari juriat keluarga yang ada di Indonesia, tetapi untuk mencarinya ia sendiri tidak mengerti harus bagaimana karena tak pernah ke Indonesia, apalagi ke Kalimantan Selatan.
Dalam kunjungan tersebut rombongan FSKB disambut dengan hangat para warga di beberapa lokasi tersebut, bahkan sempat menyaksikan festival budaya Banjar di Bukit Melintang.
Rombongan juga sempat bertemu dengan Mr Craig warga Amerika Serikat yang tinggal di Malaysia yang ternyata mendalami dan mahir bahasa Banjar.
Rombongan juga bertemu dengan tokoh masyarakat Banjar batu pahat, Jaini Musa yang ingin bertemu dengan para juriatnya yang berada di Kalsel.
Bahkan dalam perjalanan muhibah ini rombongan FSKB ikut dalam parade mobil Kulaan Adventure Team ke lokasi wisata peranginan.
Di Bukit Melintang, rombongan sempat menjenguk dua orang sepuh Suku Banjar yang sudah ujur dengan usia hampir satu abad yang dipercaya sebagai sepuh Suku Banjar yang dulunya membuka hutan wilayah Bukit Melintang sebagai kawasan pemukiman Suku Banjar.
FSKB juga bertemu dengan Rektor Universitas Islam Azlan Shah Nordin Kardi asli suku Banjar, serta Prof Jamil Hasim yang juga keturunan Banjar asal Lampihong, sepakat melakukan kerja sama pendidikan dengan FSKB yang sebagian anggotanya adalah anggota Ikatan Keluarga Alumni (IKA) Universitas Lambung Mangkurat (Unlam) Banjarmasin.
Rombongan juga disambut hangat kulaan Banjar Malaysia di Desa Sungai Manik yang 80 persen penduduknya juga sebagai petani padi atau disebut pekerja bandang adalah orang Banjar yang membuka lahan sejak ratusan tahun silam.

()