Beijing, aktual.com – Pagi itu udara tidak terlalu dingin dibandingkan dengan dua hari sebelumnya, namun sinar mentari tak tampak juga karena kabut tebal menyelimuti Kota Beijing.

Jalanan umum pun tidak terlalu ramai karena perkantoran dan sebagian sekolah di Ibu Kota China itu tutup pada hari Sabtu.

Pemandangan tersebut kontras dengan suasana di dalam kompleks Masjid Nandouya yang dibangun pada tahun 1789 Masehi. Ramai sekali pagi itu karena sehari sebelumnya ada pengumuman di mimbar Jumat akan adanya acara besar.

Orang-orang etnis Hui atau Huimin baru saja keluar dari bangunan utama masjid untuk membaca beberapa ayat suci Alquran dan doa yang dipimpin oleh seorang imam.

Selesai acara di masjid, mereka beranjak menuju salah satu ruang yang bentuknya mirip aula.

Di sana sudah tertata beberapa meja bundar berselubung taplak putih. Setiap meja dikelilingi beberapa kursi yang bisa menampung delapan hingga sepuluh orang.

Tanpa aba-aba atau kode apa pun, orang-orang yang umumnya memakai penutup kepala itu mencari tempat duduk sendiri-sendiri begitu memasuki ruangan. Mereka mengelompokkan diri sesuai muhrim.

Setelah semua duduk, para pelayan mengeluarkan hidangan pagi hari itu satu-persatu di masing-masing meja bundar.

Mulanya satu mangkuk sedang berisi sup daging sapi. Irisan daging ayam, bakso daging sapi goreng, dan nugget ayam juga disuguhkan dalam beberapa mangkuk berbeda. Ramai-ramai jamaah menikmati hidangan yang sudah disajikan dengan menggunakan sumpit.

Lalu keluar roti goreng. Dan, terakhir nasi putih. Di China sudah biasa nasi putih disajikan paling akhir setelah berbagai daging dan sayur-sayuran di meja saji tandas lebih dulu.

Sementara di luar ruangan masih ada beberapa orang yang mengantre. Selama masih ada orang yang belum mendapatkan “rezeki pagi” itu, aktivitas di dapur yang persis berada di sebelah selatan bangunan utama masjid tidak akan berhenti.

Takmir masjid juga tidak melarang kalau ada anggota jamaahnya yang membawa pulang makanan untuk keluarganya di rumah.

Setelah semua jamaah pulang, giliran imam dan takmir masjid yang santap pagi dengan menu yang sama.

“Kami menyebutnya dengan ‘shengji’,” kata Zhao Yong Qiang, salah seorang imam Masjid Nandouya, menjelaskan tradisi Maulid Nabi Muhammad SAW oleh komunitas Huimin itu kepada Antara.

Sama dengan di Indonesia, tanggal 12 Rabi’ul Awal 1441 Hijriah yang diperingati sebagai hari kelahiran Nabi Muhammad SAW itu jatuh pada hari Sabtu (9/11/2019).

Orang China sudah terbiasa dengan singkatan. Shengji terdiri dari dua suku kata “Sheng” dan “Ji”. Umumnya orang Hui memanggil utusan Allah yang terakhir itu dengan nama singkat “Musheng”. Lalu diambil suku kata terakhir untuk digabungkan dengan “Ji” yang juga kependekan dari “jinian” yang berarti peringatan.

Menurut Zhao, hampir semua masjid di Beijing yang berjumlah 72 unit itu memperingati “Sheng Ji” dengan doa dan makan-makan bersama anggota jamaah.

Imam berusia 50 tahun itu menyebutkan bahwa umat Islam etnis Hui seperti dirinya di Beijing berjumlah sekitar 2,8 juta jiwa.

Huimin atau ada juga yang menyebut Huizu merupakan salah satu dari lima suku terbesar di daratan China.

Suku Hui juga berasal dari asimilasi keturunan suku Han (mayoritas di China) dengan keturunan Persia dan Arab sejak era Dinasti Tang.

Secara fisik, tidak ada bedanya antara Hui dan Han. Bedanya, Hui memeluk agama Islam dengan menjalankan syariah bergaya Konfusianisme. Lazimlah kalau masjid-masjid China atau di makam leluhur mereka juga terdapat satu tempat untuk meletakkan hio atau dupa berbentuk lidi sebagai pelengkap sarana beribadah.

Hal inilah yang membedakan suku Hui dan suku Uighur, etnis beragama Islam yang mendiami Daerah Otonomi Xinjiang di wilayah paling barat daratan China.

Huimin persebarannya lebih merata, meskipun pusat konsentrasinya ada di beberapa provinsi, seperti Ningxia, Gansu, Qinghai, Yunnan, dan Hainan.

“Kalau di Indonesia Maulid seperti ini pasti luar biasa ramainya,” ujar Zhao sambil menunjukkan foto-foto dirinya saat berkesempatan mengunjungi Masjid Chengho Surabaya, Makam Sunan Ampel di Surabaya, dan Masjid Istiqlal di Jakarta beberapa waktu lalu itu.

Diba’an
Di China, Maulid Nabi bukanlah hari libur nasional, sama dengan hari-hari keagamaan lainnya.

Namun karena bertepatan dengan hari Sabtu yang merupakan hari libur sekolah, maka beberapa pelajar asal Indonesia tidak melewatkan peringatan Maulid Nabi.

Di Kota Nanjing, Provinsi Jiangsi, puluhan mahasiswa asal Indonesia memperingatinya dengan membaca Maulid Diba’i secara bergiliran.

“Kayak saya waktu ‘mondok’ dulu,” kata Rasyuhdi, mahasiwa Nanjing Normal University, mengenang ritual Maulid yang populer di Tanah Jawa itu.

Alumni Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, itu bersama teman-temannya membaca karya Imam Wajihuddin Abdurrahman bin Muhammad Ad Diba’i (866-944 H) tersebut.

“Totalnya ada 70 orang. Lalu kami bagi dua kelompok, putri dan putri,” jelasnya dengan menyebutkan bahwa kegiatan itu digelar di dua asrama berbeda sesuai gender.

Selain di Nanjing, beberapa pelajar Indonesia lainnya di Wuhan (Provinsi Hubei), Xi’an (Provinsi Shaanxi), dan Xiamen (Provinsi Fujian) juga mengisi Maulid Nabi dengan ritual serupa.

Bahkan di antara mereka ada yang mengisinya dengan pengajian untuk berbagi hikmah tentang perjalanan Nabi SAW semasa hidupnya hingga akhir hayat.

“Tentu momen langka ini sekaligus menjadi ajang silaturahmi antara kita,” kata Ahmad Syaifuddin Zuhri, mahasiswa Central China Normal University (CCNU) Wuhan, yang gemar berkunjung ke sejumlah masjid di daratan China itu. [Eko Priyanto]

(Zaenal Arifin)