Singapura, Aktual.com – Hubungan Singapura dengan negara tetangga, Malaysia dapat “menurun” akibat serangkaian sengketa udara dan kelautan, kata Menteri Luar Negeri negara kota yang makmur itu, Senin (14/1).

Menlu Singapura menambahkan bahwa dia berharap kedua negara akan dapat menyelesaikannya dengan damai.

Perselisihan ini merupakan perkembangan terbaru atas perseteruan berkepanjangan di Selat Singapura, salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia.

Vivian Balakrishnan mengeluarkan pernyataan setelah Singapura mengecam Malaysia pada Minggu (13/1) atas keberadaan kapal Malaysia yang oleh menlu dikatakan melanggar wilayah perairannya dan berencana menunda pertemuan tentang kerjasama komersial.

Tindakan Malaysia akhir-akhir ini mengganggu “status quo” yang telah berlangsung bertahun-tahun, kata Balakrishnan, yang pekan lalu mengadakan pertemuan dengan timpalannya dari Malaysia, Saifuddin Abdullah, dan mereka bersepakat mengenai langkah-langkah untuk melunakan ketegangan.

“Aksi ini tidak memberi pertanda baik untuk hubungan bilateral kami,” kata Balakrishnan kepada parlemen.

“Singapura masih berusaha untuk menemukan penyelesaian damai melalui dialog.” katanya serta menambahkan bahwa apabila perundingan gagal mencapai penyelesaian yang dapat diterima, Singapura akan mencari penyelesaian internasional untuk pertikaian ini.

Pada Desember Singapura menekan langkah Malaysia yang menambah perluasan batas pelabuhan di bagian selatan, negara bagian Johor, dengan mengatakan bahwa perbatasan baru itu merambah perairannya, sebuah pernyataan yang disebut Malaysia sebagai tidak benar.

Sebelumnya Malaysia mengatakan kepada Singapura untuk mengambil kembali kendalinya atas wilayah udara di sebagian wilayah Johor yang dikelola Singapura sejak 1974, menyusul prawacana sistem pendaratan baru di bandara Seletar, Singapura.

Sistem pendaratan itu memerlukan pesawat untuk terbang ke bandara kecil Singapura melintasi wilayah udara Malaysia, dimana Malaysia berkeberatan.

Singapura dulunya adalah bagian dari Malaysia tetapi keduanya berpisah dengan sengit pada 1965 dan memperkeruh hubungan diplomatik dan ekonomi selama bertahun-tahun.

 

Ant.

(Zaenal Arifin)