Sejumlah aktivis lingkungan yang tergabung dalam Greenpeace Indonesia melakukan aksi unjuk rasa di depan Gedung Kementerian Kesehatan, di Jakarta, Kamis (28/9/2017).Dalam aksinya para aktivis Greenpeace mengingatkan masyarakat tentang bahaya polusi udara. AKTUAL/Munzir

Jakarta, AKtual.com – Juru Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia Bondan Andriyanu mengatakan bahwa pembagian tanaman lidah mertua bukanlah solusi yang tepat untuk mengatasi polusi udara di wilayah DKI Jakarta.

Ia mengatakan bahwa rencana Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengurangi polusi udara dengan membagikan tanaman lidah mertua memang tidak salah, karena menurut Badan Aeronautika dan Antariksa Amerika Serikat tanaman jenis Sansevieria trifasciata memiliki kemampuan menyerap racun di udara.

“Tapi masak iya solusinya hanya bagi-bagi lidah mertua? Lah cerobong-cerobong yang masih mengeluarkan asap, knalpot-knalpot yang masih mengeluarkan gas buang berwarna hitam, sampah yang masih dibakar mau diapakan?” kata Bondan saat dihubungi di Jakarta, Selasa (23/7).

Bondan menekankan bahwa pengendalian polusi udara seharusnya dilakukan dari sumber pencemarnya.

Menurut data Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, 75 persen pencemaran udara berasal dari transportasi darat, sembilan persen dari pembangkit listrik dan pemanas, delapan persen dari industri, dan delapan persen dari domestik.

Pertanyaannya, Bondan mengatakan, berapa persen target pengurangan pencemaran udara yang ditetapkan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk mewujudkan udara Jakarta yang lebih bersih pada 2030.

(Abdul Hamid)