Siswa belajar di Lab Komputer SMK Al-Idrisiyyah Kampung Pagendingan, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, Selasa (31/1). Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan akan mulai menerapkan formulasi kurikulum khusus untuk pendidikan vokasi di SMK pada semester ajaran baru tahun 2017, dan dalam formulasi kurikulum tersebut perubahan rasio praktek dan teori, dari semula 40:60 nantinya akan diformulasikan rasio praktek lebih mendominasi menjadi 70:30. ANTARA FOTO/Adeng Bustomi/ama/17

Jakarta, Aktual.com – Standar mutu pendidikan berbasis ideologi Islam yang diterapkan oleh sekolah-sekolah Islam terpadu tidak hanya menguatkan materi pembelajaran di bidang sains dan teknologi, tapi juga nilai adab dan moral.

“Standar mutu pendidikan Islam mengandung nilai-nilai Islam yang berasal dari Al-Qur’an, dan bukan dari teori barat yang memisahkan nilai dan praktik agama dari pendidikan,” kata Ketua Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT), Sukro Muhab, pada acara Diskusi Pendidikan Islam yang digelar oleh Hizbut Tahrir Indonesia di Jakarta, Jumat (10/3).

Dia menjelaskan bahwa dunia pendidikan di tanah air menghadapi banyak masalah akibat sistem dan kurikulum sekolah berorientasi pada paham sekulerisme, materialisme, dan liberalisme.

“Paham-paham tersebut juga menjadi pola hidup masyarakat,” kata Sukro, seraya menambahkan bahwa kurikulum pendidikan kini tak mampu mewujudkan tujuan pendidikan nasional yakni mencetak generasi yang beriman dan bertakwa, cerdas, kreatif, mandiri sekaligus mampu bersaing secara global.

Menurut dia, JSIT telah menyusun sebelas standar mutu pendidikan yang dapat menjadi acuan bagi sekolah Islam terpadu di seluruh tanah air, yang diantaranya menyangkut kompetesi pendidik, penyediaan sarana dan prasarana, pengelolaan, pembiayaan, kurikukum, dan kompetensi lulusan.

“Dengan pendidikan Islam, para guru selalu mengaitkan pelajaran ilmu pengetahuan alam atau matematika dengan pendidikan agama sehingga para siswa tidak hanya cerdas, tapi juga memiliki keimanan yang kuat, ibadahnya bagus, juga berakhlak mulia dan kreatif,” jelas Sukro.

Sementara itu, Rektor Universitas HAMKA Prof. Suyatno menegaskan bahwa pendidikan Islam merupakan sistem yang sejak mula sudah terpadu karena di dalam ajaran Islam terkandung konsep keimanan dan ketakwaan, selain penguatan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Dia menyayangkan sistem pendidikan di tanah air yang masih berorientasi pada paham sekulerisme yang menjauhka pendidikan agama dari pelajaran umum sehingga memunculkan banyak masalah di dunia pendidikan.[Ant]

(Andy AbdulHamid)