Jakarta, aktual.com – Fungsionaris DPP Partai Golkar Syamsul Rizal, menilai pengucapan sumpah dengan Al-Quran yang disampaikan oleh Ketua DPD PG Jawa Barat yang disaksikan oleh Ketua Umum DPP PG dan Korbid Pemenangan Wilayah Timur, adalah sebuah tindakan yang tidak etis secara Syariat.

Sehubungan dengan dukungan Terhadapa Ir. Airlangga Hartarto sebagai salah satu calon ketua umum Golkar pada munas nanti, Ketua DPD PG Jabar semestinya membacakan saja surat dukungan, tidak kemudian mempolitisasi Aqidah dengan menjadikan Kitab Suci Al-Quran sebagai alat politik kepentingan.

“Memang islam tidak bisa dipisahkan dari politik, demikian juga sebaliknya. Islam merupakan agama yang universal, agama membawa misi rahmatan lil alamin serta membawa konsep kepada ummat manusia mengenai persoalan yang terkait dengan suatu sistem sperti konsep politik, perekonomian, penegakan hukum, dan sebagainya,” ujar Syamsul Rizal melalui siaran persnya di Jakarta, Minggu (1/9).

“Kemudian dalam bidang politik misalnya, Islam mendudukannya sebagai sarana penjagaan urusan umat bukan seperti yang di praktekkan oleh Ketua DPD PG Jawa barat yang disaksikan oleh Ketua Umum DPP PG dan Korbid Wiltim DPP PG,” katanya menambahkan.

Menurut Syamsul Rizal, secara tegas bahwa prilaku Ketua DPD PG Jabar ini adalah sebuah bentuk praktek gerakan politik Sekularisasi yang patut dilawan oleh semua Kader Golkar. Politik Islam merupakan penghadapan Islam dengan kekuasaan dan negara yang melahirkan sikap dan prilaku politik (political behavior) serta budaya politik (political culture) yang berorientasi pada nilai-nilai Islam Sikap dan prilaku serta budaya politik yang memakai kata sifat Islam.

Islam meletakkan politik sebagai satu cara penjagaan urusan umat (ri’ayah syu-un al-ummah). Islam dan politik tidak boleh dipisahkan, kerana Islam tanpa politik akan melahirkan terbelenggunya kaum muslimin yang tidak mempunyai kebebasan dan kemerdekaan melaksanakan syariat Islam. Begitu pula politik tanpa Islam, hanya akan melahirkan masyarakat yang mengagungkan kekuasaan, jabatan, bahan, dan duniawi saja, kosong dari aspek moral dan spiritual. Oleh kerana itu Ketua DPD PG Jabar dan Ketua Umum DPP Partai Golkar harus tau bahwa politik dalam Islam sangat penting bagi mengingatkan kemerdekaan dan kebebasan melaksanakan syariat.

(Zaenal Arifin)