Beranda Khazanah Dunia Islam Syeikh Yunus: Hati-Hati, Akhir Zaman Badut-Badut Tasawuf Berkeliaran

Syeikh Yunus: Hati-Hati, Akhir Zaman Badut-Badut Tasawuf Berkeliaran

Acara Konsolidasi Jatman DKI Jakarta, Minggu (17/4) di Yayasan Pondok Pesantren Al-Miftahiyah, Cilincing, Jakarta (Aktual.com)
Jakarta, Aktual.com- Ketua Majelis Ifta Idaroh Wustho JATMA DKI Jakarta Syeikh KH. Muhammad Yunus Abdul Hamid At-Tijani  menyampaikan kepada pengurus Syu’biyah Jakarta Utara agar merapatkan barisan dan memberikan pemahaman kepada masyarakat akan pentingnya mengikuti thoriqoh mu’tabaroh.
“Thoriqoh Mu’tabaroh adalah thoriqoh, metode pendekatan diri kepada Allah yang mempunyai sanad muttashil, nyambung sampai ke hadrat Rasulullah saw.” kata Syeikh Yunus dalam acara Konsolidasi wa Ifthar Jama’i Pengurus Idaroh Wushto JATMAN DKI Jakarta dan Pengurus Idaroh Syu’biyah JATMAN se-DKI Jakarta, Sabtu (16/4) di Yayasan Pondok Pesantren Al-Miftahiyah Kali Baru, Cilincing, Jakarta Utara.
“Sambungan ini ada dua ada yang melalui sahabat sampai kepada muassis thoriqoh. thoriqoh yang sanadnya melalui sahabat itu dikenal dengan nama thoriqotus sufiyah.adapun ada thoriqoh yang punya sanad langsung dari Nabi kepada muassisnya yang demikian itulah thoriqoh Muhammadiyah sehingga kemarin ada rame-rame bilang apa, ngelebur thoriqoh kemudian dia bilang thoriqoh Muhammadiyah, kapan dapat sanad langsung dari Rasulullah saw? jadi kalo tidak begitu ya klaim itu adalah klaim palsu. Naudzuillah, jika tidak bertaubat maka resikonya su’ul khotimah. hati-hati.” ujar Syeih Yunus.
Syeikh Yunus juga mengungkapkan pentingnya memiliki sosok guru dalam mengamalkan suatu thoriqoh. Dan pengamal thoriqoh harus betul-betul melihat sosok mursyid yang diikutinya.
“Amalan thoriqoh itu harus dibimbing oleh murobby, guru tarbiyah. kalau dalam fiqih yang membimbing guru ta’lim namaya.jadi dalam thoriqoh perlu murobby, murobby ruh yang membimbing ruh kita agar supaya pertama hati bersih dari kotoran-kotoran sehingga mencapai ikhlas. ikhlas itu sulit perjalanan panjang.” kata Syeikh Yunus.
“Jadi amalannya punya sanad, kemudian aturannya ada, ada syurutut thoriqoh makanya semua thoriqoh mesti mempunyai literatur. penting kita mempelajari bukan hanya isi kitabnya bagaimana tapi dengan orang yang mengamalkan isi kitab itu. dan guru yang bisa menjelaskan untuk bisa mengamalkan dengan baik harus guru yang punya sanad, kemudian selanjutnya adalah juga orang yang mendapatkan limpahan warisan dari guru yang punya sanad. kenapa akhir-akhir ini kok ada cekcok di masyarakat, saya penerusnya saya penerusnya, setelah ditanya sanadnya dari mana? saksinya ada? tidak ada.” ujar Syeikh Yunus.
Kemudian, Syeikh Yunus menambahkan hendaknya pengurus JATMAN dan masyarakat mewaspadai kelompok-kelompok yang mengatasnamakan thoriqoh tapi sebenarnya menyimpang dari pemahaman dan ajaran thoriqoh yang mu’tabaroh.
“Jadi klaim seperti itu bahaya, jadi kalo orang megklaim punya sanad tapi tidak punya sanad itu (sama saja) mencalonkan diri su’ul khotimah, karena apa? berbohong atas nama rasulullah saw. yang dibohongi tidak tanggung-tanggung, amalan khususiyahya.” jelas Syeikh Yunus.
“Karena ini urusannya kenabian, urusan risalah  urusan kerasulan yang dilanjutkan oleh para ulama dipalsukan saja dosa besar, akan tetapi kalau memalsukan pekerjaannya wali maka berlaku hadits qudsi yang meyatakan,
من عاد لي وليّاً فقد آذنته بالحرب
“Barang siapa memusuhi wali-Ku maka sesungguhka aku menyatakan perang terhadapnya, ” (HR. Bukhari).” kata Syeikh Yunus.
“Termasuk juga bermain-main dengan amalan wali, tidak dapat warisan bilang dapat warisan. kan ada. jadi, dengan orang tua saja yang punya warisan kepada anak-anakya ketika warisan itu tidak dibagi sesuai dengan ketentuan (maka) zalim dengan orang lain termasuk juga zalim dengan yang punya, lah bagaimana menzalimi Auliya mengklaim punya amalan ini itu, meyebarkan untuk kepentingan pribadinya bukan lillah, ini bahaya besar.” terang Syeikh Yunus.
“Jadi kami berkumpul, JATMAN DKI secara khusus berkumpul salah satu tujuannya adalah untuk kita konsolidasi merapatkan barisan karena di akhir zaman seperti ini badut-badut tasawuf berkeliaran. hati-hati” tegas Syeikh Yunus.
Selain itu, Syeikh Yunus juga mengusulkan kepada Mudir Idaroh Wustho DKI Jakarta agar setelah Ramadhan nanti pengurus-pengurus syu’iyah se-DKI Jakarta dikumpulkan untuk kemudian dilakukan penataran apa itu thoriqoh mutaaroh agar memastikan pengurus JATMAN minimal  mengenal thoriqoh dan merupakan pengamal thoriqoh.
“Karena apa, ya ini, kalo tidak ngerti nanti pesugihan dianggap thoriqoh. jadi amalan yang bisa ini, bisa kaya raya langsung. kan banyak kan, kalo sudah janjinya kaya raya pasti, kalo sudah janjinya naik pangkat pasti. lha ini biar masyarakat tidak terkecoh. dan pengurus khususnya ngerti apa yang mereka pegang. yang mereka pegang adalah permata-permata agama yang secara khusus punya rasulullah yang mendapat amanah dari Allah swt.” jelas Syeikh Yunus.
Turut hadir dalam acara tersebut, Mudir JATMAN Idaroh Wustho DKI Jakarta KH. Muhammad Danial Nafis, Majelis Ifta Idaroh Syu’biyah JATMAN Jakarta Utara dan Pengasuh Ponpes Al-Miftahiyah KH. Nasihin Zain, Dewan Ifta KH. Muhammad Yahya dan Kyai Bahroni, Mudir dan Wakil Mudir Idaroh Syu’biyah Jakarta Utara Ustadz H. Ali Syahbana dan Kyai Abdul Mughni, Rois Syuriah MWCNU Cilincing Kyai Fathurrohim Shona, Serta para Ulama, Kiai dan pengurus JATMAN Idaroh Syu’biyah Jakarta Utara.
(Megel Jekson)