Jakarta, Aktual.com — Meskipun dikecam oleh negara-negara Barat, pemerintah Tajikistan tetap bersikukuh membatasi warganya untuk merayakan Natal dan Tahun Baru, termasuk melarang pemasangan pohon Natal di berbagai sekolah dan Universitas.

Kementrian pendidikan Tajikistan melarang “penggunaan kembang api, pesta makanan, pemberian hadiah dan pengumpulkan uang” saat perayaan Tahun Baru 2016 mendatang.

Negara yang mayoritas penduduknya Muslim ini juga resmi melarang “pemasangan pohon Natal” – baik terbuat kayu atau buatan – di berbagai sekolah dan Universitas, demikian Aktual kutip dari laman BBC.Co.Uk seperti dilansir kantor berita AFP.

Pemerintah lokal Tajikistan juga membatasi pula pemasangan pohon Natal di ibu kota Tajikistan, Dushanbe, hingga akhir tahun 2015.

Namun, meskipun penduduknya mayoritas Muslim, Tajikistan merupakan negara sekuler yang menghormati kebebasan beragama. Sebagian penduduknya juga masih terbiasa dengan tradisi dan budaya asli Rusia.

Sebelumnya pada malam Tahun baru 2012, seorang pria yang mengenakan jubah Santa Claus (Sinterklas) ditikam hingga meninggal dunia oleh oknum tak dikenal di luar rumah kerabatnya di Dushanbe.

Keluarga pria naas tersebut mengaku serangan itu dilatari motif agama, namun Kepolisian setempat membantahnya dan mengatakan tiga penyerangnya dalam kondisi mabuk.

Sehari sebelum penyerangan itu, Ulama terkemuka Tajikistan mendesak umat Islam tidak memperingati tradisi Tahun Baru Masehi.

Setahun lalu, sejumlah warga setempat yang menghelat pesta dengan mengenakan kostum zombie dan vampir terpaksa ditahan oleh petugas Kepolisian setempat lantaran pemerintah melarang perayaan Halloween melalui peraturan yang dikeluarkan. (Sumber: BBC.Co.Uk, AFP)

()