Blok Rokan berpeluang kembali ke tangan asing. (ilustrasi/aktual.com)

Jakarta, Aktual.com – Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar mengungkapkan alasan pemerintah memilih Pertamina sebagai pengelola minyak blok rokan.

Menurutnya, kunci keberhasilan Pertamina adalah adanya tawanan signature bonus atau bonus tanda tangan dalam proposalnya. Bonus itu mencapai Rp 11,3 triliun.

“Dari sisi komersial Pertamina, mengajukan dalam proposal signature bonus US$ 784 juta atau sekitar Rp 11,3 triliun,” kata dia di Kementerian ESDM Jakarta, Selasa (31/7).

Bonus tanda tangan adalah bonus yang diserahkan sebelum penandatanganan kontrak. Tujuannya, untuk menunjukkan perusahaan yang menang lelang itu bonafide dan bersungguh-sungguh.

Pertamina sendiri mulai mengelola blok Rokan hingga kontrak PT Chevron Pacific Indonesia habis pada 2021 mendatang.

Arcanda juga mengatakan, komitmen kerja pasti sebesar US$ 500 juta atau sekitar Rp 7,2 triliun.

“Potensi pendapatan negara selama 20 tahun ke depan sebesar 57 miliar dolar AS atau sekitar Rp 825 triliun. Insyaallah potensi pendapatan ini bisa menjadi pendapatan dan kebaikan bagi kita bangsa Indonesia,” ujarnya.

Chevron sebenarnya masih ingin mengelola blok tersebut. Tapi, penawarannya kurang memikat pemerintah. Meski, Arcandra enggan membeberkan.

“Penawaran dari Chevron jauh di bawah penawaran yang diajukan oleh Pertamina,” tutupnya.

(Teuku Wildan)