Jakarta, Aktual.co — Dua penjaga perbatasan Iran dan seorang anggota paramiliter Pakistan tewas dalam bakutembak.
“Beberapa pemberontak” juga tewas dalam pertempuran pada Kamis malam, kata kantor berita Iran ISNA, Sabtu (18/10) mengutip pernyataan pejabat militer, dengan menambahkan bahwa sebuah mobil dan sejumlah senjata disita.
Sementara itu, seorang pejabat di Pakistan mengatakan seorang personil paramiliter twwas dan empat tentara cedera ketika kendaraan mereka ditembaki oleh para penjaga perbatasan Iran.
“Patroli FC (Korps Perbatasan) Pakistan mengejar dua tersangka dalam satu mobil ketika para penjaga perbatasan Iran menembaki dari seberang perbatasan , menewaskan serorang prajurit yunior dan mencederai empat tentara,” kata juru biara Wasey Khan.
Menteri dalam negeri Provinsi Baluchistan Pakistan,Abar Hussain Durani, mengonfirmasikan insiden itu dan jumlah para korban.
Tidak jelas apakah mobil yang dikejar oleh tentara Pakistan itu sama dengan yang disita setelah penembakan di lintas perbatasan itu.
Baluchistan terletak dekat Provinsi Sistan-Baluchistan Iran di mana ISNA mengatakan penembakan itu terjadi dan pemberontak melakukan serangan awal bulan ini menewaskan lima orang, empat diantara mereka personil pasukan keamanan.
Media Iran mengatakan 14 orang ditahan sehubungan dengan serangan-serangan itu.
Bulan lalu seorang serdadu tewas dan dua anggota milisi pro-pemerintah cedera dalam satu serangan yang dituduh dilakukan oleh kelompok garis keras Sunni Jaish-ul-Adl (Tentara Keadilan).
Kelompok yang sama menahan lima tentara Iran Februari lalu, empat dari mereka dibebaskan April lalu. Nasib orang kelima tidak diketahui.
Provinsi Sistan-Baluchistan banyak dihuni masyaraat Sunni di negara yang mayoritas Syiah itu, dan dilanda aksi kekerasan melibatkan kelompok garis keras Sunni dan para penyelundup narkoba.
Iran berulang-ulang meminta Pakstan bertindak “menghentikan penyusupan para terois” dan menugaskan Pengawal Revolusi untuk mengawasi daerah perbatasan yang rawan itu.
Baluchistan Pakistan yang kaya sumber alam dilanda konflik separatis yang kembali aktif tahun 2004, dengan kelompok nasionalis berusaha menghentikan apa yang mereka sebut pemerasan sumber-sumber alam wilayah itu dan pelanggaran hak asasi manusia.
Gagasan untuk memberikan otonomi lebih luas kepada provinsi itu, daerah seluas Italia, tetapi dengan hanya sembilan juta penduduk, adala sangat rawan dalam satu negara yang pecah dengan merdekanya wilayah timurnya, kini Bangladesh tahun 1971.

()