Jakarta, Aktual.com – Setelah kekalahan Timnas Belanda melawan Argentina dalam adu Penalti beberapa waktu yang lalu, bagi saya World Cup 2022 sudah selesai. Namun, ada yang menarik perhatian netizen di seluruh dunia. Timnas Maroko yang bukan siapa-siapa (nothing) berhasil mengalahkan Portugal melalui gol tunggal Youssef En-Nesyri (something).

Ada 2 hal yang spesial bagi saya akan Negara Maroko ini. Ini bukan berarti saya akan berpindah ke lain hati (dari Belanda ke Maroko). Karena sejak kecil saya selalu menjadi pendukung setia Timnas Belanda. Pertama, tentang sejarah hari ini (present time). Timnas Maroko menjadi negara pertama di Benua Afrika yang berhasil lolos ke babak Semi Final World Cup. Ini adalah catatan sejarah bagi World Cup. Mengejutkan, karena Timnas Maroko yang dianggap oleh Netizen hanya sebagai tim debutan (nothing), namun mereka berhasil menaklukkan tim unggulan Spanyol dan Portugal (something). Bukan tanpa sebab, ternyata jika dianalisis lebih dalam faktor paling rasional atas capaian Timnas Maroko hari ini karena para pemainnya banyak berlaga di liga raksasa dunia.

Kedua, tentang sejarah masa lalu (past time). Jika dirunut mengenai sejarah Maroko, maka kita akan membaca sejarah penaklukan Andalusia oleh Thariq Bin Ziyad bersama 7.000 pasukannya dari Maroko di tahun 711 Masehi. Perlu diketahui bahwa Andalusia dulunya adalah bagian dari semenanjung Iberia yang hari ini terdiri dari negara Spanyol dan Portugal. Kisah ini menjadi semakin menarik karena Thariq Bin Ziyad dulunya adalah seorang budak dari Musa Bin Nushair (nothing). Merdeka, kemudian diangkat menjadi Komandan Militer yang berhasil menjadi penakluk Andalusia (something).

Tidak hanya pidato Thariq Bin Ziyad sebelum menaklukkan Andalusia yang menarik bagi kita yang membaca sejarahnya. Akan tetapi bukit yang menjadi tempat berpidato pun sangat menarik dan menjadi viral dikalangan pasukannya yang kemudian diganti namanya menjadi Jabal Thariq alias Gibraltar. Bahkan selat yang ikut mengelilingi Jabal Thariq pun ikut berganti nama, dari Selat Hercules menjadi Selat Gibraltar yang kita kenal hari ini.

Tidak heran, jika kemudian Timnas Maroko memiliki semangat juang bagaikan pasukan Thariq Bin Ziyad yang menaklukkan Andalusia pada 1311 tahun yang lalu. Dalam hitungan jam Timnas Maroko akan menghadapi Timnas Perancis yang notabene adalah negara tetangga dari Spanyol dan Portugal (wilayah Andalusia). Hal yang menarik bagi saya bukan pertandingannya, tapi sejarah yang akan tercipta ketika Timnas Maroko dapat memperluas penaklukan kota disekitar wilayah Andalusia (baca : Perancis). Semoga kisah Thariq Bin Ziyad ini dapat tetap membakar semangat Timnas Maroko untuk mengalahkan Perancis.

Ahmad Fadhli
Peminat Behavioral Economics
Pendukung Timnas Belanda

(Rizky Zulkarnain)