New York, Aktual.com – Harga minyak jatuh pada akhir perdagangan Selasa waktu New York atau Rabu pagi WIB.

Anjloknya harga minyak ini terjadi usai Presiden AS Donald Trump menegaskan kembali bahwa Arab Saudi sebagai sekutu besarnya dan mengisyaratkan pihaknya tidak akan menghukum putra mahkota Saudi atas pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi.

Pihak Gedung Putih mengeluarkan pernyataan yang sangat jelas mengabaikan kebenaran pembunuhan ini dengan menyatakan, “sangat mungkin Putra Mahkota memiliki pengetahuan tentang peristiwa tragis ini — mungkin dia melakukannya dan mungkin dia tidak.”

“Amerika Serikat bermaksud untuk tetap menjadi mitra setia Arab Saudi guna memastikan kepentingan negara kami, Israel dan semua mitra lainnya di kawasan itu,” katanya.

Trump juga mengatakan bahwa Arab Saudi telah “bekerja sama dengan kami dan sangat responsif terhadap permintaan saya untuk menjaga harga minyak pada tingkat yang wajar.”

Pernyataan Trump datang dua minggu sebelum pertemuan antara OPEC yang dipimpin Saudi dan produsen minyak lainnya di dunia untuk membahas tentang potensi pengurangan produksi dan potensi kebijakan minyak global pada Desember, dalam upaya untuk mengatasi kelebihan pasokan saat ini yang mengkhawatirkan investor.

Trump, melalui Twitter pekan lalu, menyuarakan penentangannya terhadap pemotongan produksi minyak oleh Arab Saudi dan OPEC, mengatakan bahwa “harga minyak harus jauh lebih rendah berdasarkan pasokan.”

Namun, para analis meragukan apakah Riyadh akan mendukung Trump dalam mempertahankan tingkat produksi minyak saat ini, pada saat ketakutan atas surplus pasokan telah membebani harga minyak secara terus menerus.

Minyak mentah AS, West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Januari, merosot 3,33 dolar AS menjadi menetap di 53,43 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange.

Sementara itu, patokan global, minyak mentah Brent untuk pengiriman Januari, jatuh 4,26 dolar AS menjadi ditutup pada 62,53 dolar AS per barel di London ICE Futures Exchange.

Ant.

(Teuku Wildan)