Ribuan buruh melakukan aksi mogok nasional yang di Kawasan Industri Pulogadung, Jakarta Timur, Selasa (24/11/2015). Buruh melakukan aksi mogok nasional yang dilakukan selama tiga hari, yaitu pada 24-27 November, untuk menolak dan menuntut agar pemerintah mencabut Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 78 Tahun 2015 tentang Pengupahan.

Surabaya, Aktual.com – Naiknya upah minimum kabupaten/kota (UMK) yang tidak diimbangi dengan meningkatnya produktifitas buruh, dikhawatirkan bakal membuat investor kabur. Kekhawatiran itu disampaikan ekonom dari Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Amak Yaqoub.

Kata dia, jelang era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), sejumlah investor yang semula ingin menanamkan modal di Indonesia bisa jadi mulai melirik negara tetangga karena beberapa faktor.

“Salah satunya produktivitas para buruh yang rendah,” kata dia, di Surabaya, Jatim, Minggu (29/11).

Meskipun kawasan ‘Ring 1’ di Jatim, yaitu Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Mojokerto, dan Pasuruan, menawarkan infrastruktur lengkap, namun investor mulai membandingkan dengan negara ASEAN lain. Jika dilihat dari segi produktivitas buruh.

“Mereka sudah melirik negara-negara ASEAN, seperti Vietnam. Oleh karena itu, kita harus berhati-hati. Jika upah kita dua sampai tiga kali lipat, tetapi produktivitas kita lebih rendah, maka para investor akan enggan untuk menginvestasikan sahamnya di Jatim,” ucap dia.

Para investor, ujar dia, tentu akan bertanya-tanya dan meminta kepastian akan kenaikan upah buruh berdasarkan apa. Dan besarannya berapa.

“Karena mereka (investor) akan khawatir jika setiap tahun selalu ada demo buruh, tetapi dihitung juga apakah produktivitas buruh-buruh itu tetap atau meningkat,” ujar dia.

Agar Jatim tetap menarik bagi investor, menurut dia, pemerintah harus menawarkan berbagai kemudahan. Dukungan dari pemerintah, seperti Badan Penanaman Modal bisa digerakkan dengan memfasilitasi penyelesaian permasalahan yang berkaitan dengan pertanahan dan kemudahan perizinan.

Meski dihantui ancaman relokasi pabrik, hingga investor yang melirik negara lainnya, Yaqoub tetap optimistis Indonesia akan meraup untung dari MEA. Karena pengusaha dalam negeri bisa ekspansi usaha dengan lebih luas ke negara lain akibat adanya aliran bebas uang dan investasi.

“Jika melihat MEA ke depannya Indonesia akan memiliki peran penting, apalagi Indonesia digadang-gadang sebagai negara sentral karena memiliki penduduk terbesar di kawasan ASEAN, namun untuk sumber daya manusia juga harus melakukan terobosan sebagai perkembangan untuk Indonesia,” tandasnya.

Menurut dia, pengusaha Indonesia harus menjadikan MEA sebagai tantangan sekaligus kesempatan memperbaiki kuaitas produk. Yakni untuk membawa produk-produk Indonesia ke kawasan Vietnam, Myanmar, atau Kamboja yang ibaratnya masih Ring 2 atau Ring 3 dengan Indonesia.

(Ant)

()