Kasus Kopi Mirna (Aktual/Ilst.Nelson)
Kasus Kopi Mirna (Aktual/Ilst.Nelson)

Jakarta, Aktual.com — Sabtu (30/1) pagi tadi, tepatnya pukul 07.45 WIB, Jessica Kumala Wongso ditangkap oleh Polda Metro Jaya di hotel Neo Mangga Dua, Jakarta. Dia ditangkap terkait kasus kematian Wayan Mirna Salihin 27 tahun.

Lalu apa yang membuat Jessica yang sudah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus kematian Mirna itu. Psikiater dr Syailendra dalam Talkshow Polemik bertajuk ‘Mencari Sang Pembunuh’ di Waroeng Daun, Jl Cikini Raya, Jakarta Pusat, menyebutkan bahwa sikap tenang yang ditunjukan Jessica bisa menimbulkan dua pernyataan.

“Bisa karena dia memang tidak melakukan itu atau bisa juga karena terbiasa melakukan itu. Ini jadi masalah bagi berwenang. Kalau itu sekarang sudah ditetapkan sebagai tersangka, yang berjalan proses-proses penyidikan,” kata Syailendra.

Apalagi, sikap tenang yang ditunjukan Jessica itu membuat sebagian orang tak menaruh curiga. “Saya melihat dari penampilan J, kalau dia di depan kamera selalu tenang. Padahal dia berhadapan dengan kemungkinan akan dituduh sebagai pembunuh yang mana itu suatu trauma berat,” ujar dia.

Untuk mengetahui bagaimana diri Jessica, disebut Syailendra perlu dilakukan tes kejiwaan. Berbagai tes dan ahli perlu turun dalam menangani ini.

“Jessica itu dibutuhkan suatu proses tes kejiwaan, gimana sesungguhnya kejiwaan J. Nanti pasti turun psyciatric forensik. Nanti akan ada beberapa tes. Di situ nanti bisa ditentukan,” ujar Syailendra.

“Hasilnya seperti apa kita belum tahu. Tes kejiwaan memang dibutuhkan untuk menopang atau membantu proses penyidikan,” kata psikiater RS Pertamina ini.

Syailendra mengatakan perlu ada kesiapan mental dari Jessica sendiri. Karena dalam proses hukum, tekanan akan datang dan dapat memunculkan karakter seseorang sesungguhnya.

“Harus ada kesiapan mental dari J untuk menghadapi proses hukum. Kalau dia tidak melakukan itu (pembunuhan), dia harus menyatakan yang sebenarnya. Jangan mereka-reka. Kalau dia bersalah , itu akan keluar dengan sendirinya (terlihat berbohong),” kata Syailendra.

(Wisnu)