Jakarta, Aktual.com – Mi instan merupakan sebuah makanan yang digemari banyak orang dari segala kalangan di tanah air. Cara memasak yang praktis dan harga murah menjadi dua alasan utama dari hal ini, khususnya bagi anak-anak indekost.

Sebagai makanan instan, mi instan sejatinya memiliki banyak efek negatif bagi tubuh kita karena mengandung bahan pengawet dan perasa yang tidak alami.

Meskipun demikian, masih banyak orang yang mengabaikan hal ini. Bahkan sangat banyak orang Indonesia yang “rutin” mengkonsumsi mi instan walaupun makanan ini dapat memicu kanker.

Yang bahaya, potensi penyakit kanker yang dipicu oleh menkonsumsi mi instan tidak hanya berlaku bagi orang dewasa, tetapi juga dapat terjadi pada anak-anak.

Hal ini diungkapkan oleh dokter Spesialis Bedah dan Ahli Kankaer Saluran Cerna RS Kanker Dharmais dr. Fajar Firsyada, Sp.B-KBD dalam acara Cancer Information and Support Center (CISC) di Jakarta, Kamis (20/12).

Fajar mengisahkan, baru-baru ini ia mendapatkan kasus kanker lambung stadium 4 pada pasieun anak yang berusia 13 tahun.

“Dalam dua tahun terakhir, pasien ini tidak mau makan bila tidak makan mi instan. Pasien juga tidak ada riwayat kanker dari keluarganya. Begitu ditanya pola makan, ternyata makanan tersebut menjadi penyebabnya,” kisahnya.

Menurutnya, sel normal dapat berubah menjadi sel kanker itu karena sel tersebut kontak dengan bahan asing yang bersifat karsinogenik atau memicu sel kanker dalam tempo yang lama dan jumlah yang besar.

“Jadi, sangat disarankan tidak terlalu sering mengonsumsi mi. Apalagi, sekarang ini mi dibuat versi besar,” ujar Fajar.

Ia menegaskan,bukan berarti mengonsumsi mi instan itu membuat kanker. Namun berdasarkan hasil penelitian itu makanan yang diawetkan dalam waktu yang lama itu meningkatkan risiko terjadinya kanker di saluran cerna dari lambung sampai usus.

Kalau pun ada tambahan sayuran dalam penyajian mi instan itu seperti sawi atau pokcoy, lanjut Fajar, tidak akan berpengaruh banyak.

“Solusinya, kita harus mengendalikan konsumsi makanan yang diawetkan, daging merah, daging olahan seperti patty burger, nugget, juga makanan yang serba dibakar dengan arang. Sebab, arang sendiri itu bersifat karsinogenik,” jelasnya.

Ant.

(Teuku Wildan)