Jakarta, Aktual.com — Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat (USAID) memberikan hibah sebesar 250 juta dollar atau senilai Rp3,5 triliun, untuk berbagai program lingkungan yang akan diimplementasikan selama 2015-2019 di Indonesia.

“USAID sebagai organisasi pelopor kerja sama dengan Indonesia, ingin mengembangkan dan mengatur beberapa program konservasi lingkungan,” ujar Duta Besar AS untuk Indonesia Robert O Blake Jr dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (16/12).

Dana tersebut akan dialokasikan dengan rincian 70 juta dolar AS untuk sektor kehutanan dan penggunaan lahan, 40 juta dolar AS untuk manajemen kelautan dan perikanan, 40 juta dolar AS untuk pelayanan air dan sanitasi.

Berikutnya 20 juta dolar AS untuk pengembangan energi bersih, 19 juta untuk upaya adaptasi terhadap perubahan iklim, serta 60 juta dolar AS untuk kerja sama peningkatan kapasitas pendidikan tinggi dan teknologi sains pengurangan bencana.

Adapun target yang ingin dicapai yakni meningkatkan pengelolaan hutan dengan luasan 8,4 juta hektare, melindungi 6 juta hektare ekosistem laut, termasuk ekosistem terumbu karang, serta menyediakan air bersih dan pelayanan sanitasi untuk 1,5 juta penduduk miskin Indonesia.

Untuk memastikan bahwa program ini akan menghasilkan pengaruh nyata dan maksimal, ujar Blake, USAID tidak hanya bekerja sama dengan berbagai kementerian dan pemda, namun juga dengan pihak swasta dan masyarakat lokal termasuk universitas, LSM, dan kelompok agama.

Terkait program tersebut, Direktur Kehutanan dan Konservasi Sumber Daya Air Kementerian PPN/Bappenas Basah Hernowo menuturkan bahwa selama ini pengelolaan sumber daya alam untuk mencapai kesejahteraan selalu menjadi tantangan tersendiri.

Banjir, kekeringan, penebangan liar, dan penangkapan ilegal merupakan beberapa kendala yang dihadapi pemerintah Indonesia dalam mengelola SDA.

“Kerja sama dengan USAID menjadi sangat penting karena kita butuh dukungan berbagai pihak tentang bagaimana mengelola sumber daya melimpah secara berkelanjutan,” ujar Basah.

Program pengelolaan lingkungan USAID yang akan dilaksanakan di lima provinsi yaitu Aceh, Kalimantan Tengah, Papua, Sulawesi Selatan, Jawa Timur itu diakuinya bertujuan untuk memenuhi target Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) pemerintah Indonesia.

“Selain pemerintah, pemangku kepentingan lain juga akan dilibatkan. Kami berharap program ini tidak hanya membawa pengaruh positif dalam hal kebijakan tetapi juga untuk masyarakat setempat,” ujar dia.

(Ant)

(Wisnu)