Usai sholat dzuhur berjam'ah para warga Batang bersama agar pembangunan PLTU Batang tidak jadi dilaksanakan,Jakarta, Senin (5/10/2015). Dalam aksinya warga Batang meminta Presiden Joko Widodo membatalkan pembangunan PLTU di Kabupaten Batang, Jawa Tengah karena dinilai akan menghancurkan kawasan konservasi laut, lahan pertanian serta mencemarkan perairan laut yang akan mengancam kehidupan masyarakat setempat.

Jakarta, Aktual.com – Tenggat waktu yang diberikan pukul 18.00Wib sudah lewat, polisi akhirnya membubarkan aksi penolakan pembangunan PLTU Batang yang berlangsung di Istana Negara, Senin (5/10) petang.

Dibawah komando Kapolsek Gambir, AKBP Susatyo Purnomo, satu persatu pengunjukrasa diangkut polisi ke dalam Kawasan Monumen Nasional (Monas).

Tindakan polisi pun menuai protes para pendemo. “Kami melakukan aksi damai ya pak, kami tidak anarkis,” ujar salah seorang demonstran perempuan.

Sambil bergandengan tangan demonstran terus mengumandangkan sholawat nabi. Sementara pihak kepolisian berkali-kali melakukan koordinasi.

Sekitar pukul 18.45 Wib, polisi turun. Mereka menurunkan ogoh-ogoh, peraga yang digunakan demonstran. Sementara itu demonstran dibiarkan melanjutkan aksinya.

Beberapa saat kemudian, polisi turun lagi. Kali ini, mereka membawa atau tepatnya mengangkat satu-persatu demonstran. Demonstran yang sebagian besar petani dari Batang, Jawa Tengah, menolak dengan bertidur-tiduran.

Polisi tidak kehabisan akal. Pegangan tangan demonstran dilepaskan untuk kemudian diangkut ke dalam kawasan Monas. Dari pantauan Aktual.com, beberapa demonstran tampak dibiarkan melakukan aksinya di depan Istana Negara sambil tiduran.

()