Jakarta, Aktual.co —Dana pembangunan tanggul raksasa di Jakarta Utara sebaiknya digunakan untuk memulihkan 13 sungai. 
Demikian disampaikan Deputi Direktur Bidang Eksternal Wahana Lingkungan Hidup DKI Jakarta Zaenal Muttaqin dalam siaran persnya, Senin (27/10). 
“Dana sekitar Rp600 triliun yang dialokasikan untuk pembangunan tanggul raksasa sangat lah sia-sia. Kami mengimbau Pemprov DKI Jakarta untuk segera menghentikan proses pembangunan tanggul dan segera mengalihkan dana yang sudah dianggarkan untuk pembangunan awal tanggul ke pemulihan 13 sungai yang mengaliri Jakarta,” katanya.
Berdasarkan hasil kajian Walhi, kata dia, pemulihan 13 sungai akan mampu memberikan dampak positif bagi lingkungan Jakarta, ekosistem laut, pertumbuhan jumlah ikan dan peningkatan kesehatan di pantai-pantai Jakarta.
Namun pemulihan sungai harus disertai dengan penegakan hukum bagi para pelanggar lingkungan, terutama pabrik-pabrik yang membuang limbah beracun, baik ke sungai maupun ke pinggir pantai.
Menurut dia, pemulihan sungai lebih utama ketimbang membangun tanggul untuk menahan jutaan limbah beracun dari sungai di Jakarta.
“Karena itu apabila Ahok (Plt Gubernur DKI Jakarta) masih memaksakan pembangunan tanggul ini, sama saja membangun waduk limbah beracun,” katanya.
Zaenal mengemukakan pembangunan tanggul raksasa akan dimulai di sekitar Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara. Di antara tanggul dan pesisir pantai akan dibangun beberapa blok pulau.
Pulau-pulau tersebut akan diisi dengan berbagai fasilitas antara lain, apartemen, golf, pariwisata. Apartemen-apartemen yang dibangun tersebut berdekatan dengan jalan tol.
“Melalui berbagai forum, sejak zaman Foke hingga Ahok, Pemprov DKI Jakarta telah menjelaskan bahwa akan dibangun juga tempat pengolahan limbah, waduk pengolahan air bersih, dan beberapa fasilitas lainnya. Dengan skenario itu, pemprov berasumsi tanggul akan mampu mengurangi banjir rob yang diakibatkan oleh naiknya air laut dan penurunan muka tanah, tersedianya air dan dikelolanya limbah yang ada,” katanya .
Untuk melihat skenario itu dapat menjawab persoalan Jakarta atau tidak, lanjutnya Walhi memiliki data dari hasil kajian yaitu 13 sungai mengalami pencemaran yang sangat parah dan pendangkalan sehingga tidak mampu lagi menampung air hujan.
Selain itu, limbah sungai di sepanjang sekitar 30 km pantai Jakarta itu terdapat berbagai pabrik seperti di kawasan Cilincing yang membuang limbah langsung ke laut.
“Hal ini menambah derita pantai Jakarta,” katanya.
Fakta lainnya juga ditemukan bahwa tanah di Jakarta sudah jenuh dan tidak mampu menyerap air hujan dengan cepat. Selain karena ruang terbuka hijau yang menyempit, penyedotan air tanah yang massif menyebabkan air laut mendorong air tanah semakin menjauh.
“Hutan bakau di pantai sekitar Jakarta sudah berkurang jauh. Alhasil, luapan hujan dan limbah semua mengalir ke muara,” katanya.
Dengan fakta itu, menurut dia, ketika tanggul dibangun maka aliran air laut menjadi terhenti. Dengan begitu, dorongan limbah dan sampah dari sungai maupun pabrik-pabrik di sepanjang pantai akan berkumpul di dalam wilayah tanggul.
“Kalau ini terjadi, akankah satu fasilitas pengolahan limbah di dalam pulau itu akan mampu mengolah jutaan kubik limbah? Jawabannya pasti tidak,” katanya.

(Andy Abdul Hamid)