Masjid Pusat Cologne, yang akan diizinkan untuk menyiarkan muadzin - adzan - di bawah skema percontohan dua tahun yang diumumkan oleh walikota kota (Dok. Dailymail)

Cologne, Aktual.com – Wali Kota Cologne, Jerman, Henriette Reker mengumumkan secara resmi pada hari Senin (11/10) bahwa masjid-masjid di kota Cologne diberikan izin untuk mengumandangkan adzan melalui pengeras suara setiap hari Jum’at. Pemberlakuan ini merupakan skema percontohan yang berlaku selama 2 tahun. Perlu diketahui, di Cologne sendiri ada 35 masjid dan salah satunya yang terbesar di Jerman. Kumandang adzan sendiri dibatasi hanya sekitar lima menit dan hanya pada hari Jumat antara siang dan 3 sore.

Pengumunan ini muncul setelah kesepakatan dibuat antara pemerintah kota Cologne dan komunitas Muslim Cologne.

“Banyak penduduk Cologne adalah Muslim. Dalam pandangan saya, ini adalah tanda penghormatan untuk mengizinkan panggilan muazin,” tulis Walikota Cologne Henriette Reker di Twitter. seperti dikutip Dailymail. Pengumuman ini juga menandakan bahwa keragaman dihargai dan hidup di Cologne. “Suara azan akan saling bersahutan dengan lonceng katedral Cologne – gereja Gotik terbesar di Eropa utara – sebagai suara yang terdengar oleh mereka yang tiba di stasiun kereta utama kota itu,” tutur Henriette Reker.

Tidak seperti di negara-negara muslim yang mengumandangkan azan setiap 5 kali sehari, pemerintah kota cologne mengungkapkan ini tidak akan terjadi secara rutin tapi hanya setiap jumat sore.

Pemerintah kota juga itu mengatakan bahwa masjid-masjid yang ingin menyiarkan panggilan azan harus mematuhi batasan volume pengeras suara dan memberi tahu tetangga sebelumnya.

Akan tetapi, pengumuman ini seperti dilansir Dailymail menimbulkan banyak reaksi dari pengamat di Jerman yang bertentang dengan inisiatif pemerintah kota Cologne sebagai “suatu unjuk kekuatan”. Berikut beberapa komentarnya:

Wartawan Bild Daniel Kremer:

“Sejumlah masjid di Cologne didanai oleh Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan, seorang pria yang menentang nilai-nilai liberal demokrasi kita”.
“Adalah salah untuk menyamakan lonceng gereja dengan azan, “Lonceng adalah sinyal tanpa kata-kata yang juga membantu memberi tahu waktu. Tapi muazin berseru ‘Allah Maha Besar!’ dan ‘Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah.’ Itu merupakan perbedaan besar”. 

Pakar integrasi Ahmad Mansour:

“Ini bukan tentang ‘kebebasan beragama’ atau ‘keragaman’, seperti yang diklaim Walikota Reker”.
“Operator masjid menginginkan visibilitas. Mereka merayakan muazin sebagai unjuk kekuatan atas lingkungan mereka”.

Christian Social Union in Bavaria (CSU).

“Di Bavaria kami tidak ingin tes model seperti itu. Mereka bukan bagian dari tradisi barat kita. Juga, azan tidak diperlukan untuk mengamalkan agama Islam”.

Sekitar 4,5 juta Muslim tinggal di Jerman, kelompok minoritas agama terbesar, dan Cologne bukanlah kota pertama di negara itu yang mengizinkan Masjid untuk menyiarkan azan.

Masjid-masjid di Gelsenkirchen dan Düren – juga di North Rhine-Westphalia yang memiliki komunitas imigran Turki yang besar – telah menyiarkan muazin sejak 1990-an.

 

(Dede Eka Nurdiansyah)