Jakarta, Aktual.com – Gula darah yang tidak terkontrol dapat berakibat menjadi diabetes. Sayangnya, prevalensi diabetes melitus tipe-1 (DMT1) pada anak di Indonesia makin meningkat.

Walaupun sudah tersedia insulin sebagai pengobatan diabetes, masih banyak masyarakat Indonesia tak sadar akan bahaya DMT1 pada anak dan remaja untuk masa depan.anak

Hal ini dibuktikan dari tingginya underdiagnosis dan misdiagnosis DMT1 pada anak-anak dan tingginya jumlah anak yang mengidap ketoasidosis diabetik (DKA).

“Anak-anak penderita DMT1 yang tidak memiliki akses ke layanan kesehatan akan sulit mendapatkan hidup sehat, mengembangkan potensi dan bakat, serta mewujudkan cita-cita mereka,” kata Vice President & General Manager Novo Nordisk Indonesia, Anand Shetty dalam siaran pers yang Suara.com.

Anand menjelaskan bahwa seluruh lapisan masyarakat harus memiliki akses ke pengobatan, edukasi, alat pemantauan, dan obat-obatan diabetes.

Akses pengobatan diabetes sangat penting karena perlu perawatan dan dukungan berkelanjutan untuk memantau kondisi mereka dan menghindari komplikasi.

Data CHEPS FKM UI dan PERKENI pada tahun 2016 menyebutkan sebesar 74 persen anggaran kesehatan dari pemerintah dihabiskan untuk mengobati komplikasi diabetes. Padahal, komplikasi diabetes bisa dihindari dengan mengontrol tingkat gula darah.

Terapi insulin adalah bagian penting dari pengobatan diabetes dan mencegah komplikasi lebih lanjut.

Agar bisa menjangkau masyarakat Indonesia dengan diabetes, Novo Nordisk melakukan beragam kampanye dan edukasi tentang diabetes dengan mengajak mereka bergabung dengan gerakan Changing Diabetes in Children. Gerakan ini menyediakan macam-macam produk inovatif dan menyokong pemerintah dalam pendekatan bersifat preventif.

“Salah satu kolaborasi kami mendatang adalah chatbot diabetes. Masyarakat bisa mendapatkan informasi mengenai diabetes melalui platform WhatsApp. Kami berharap chatbot ini dapat menjadi sumber informasi utama mengenai diabetes,” paparnya.

(Shavna Dewati Setiawan | Suara.com)

(Aktual Academy)