Jakarta, Aktual.co — Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yakin wabah Ebola yang menjangkiti Liberia, Guinea, dan Sierra Leone tidak akan menyebar di kawasan sekitarnya.
Saat ditanya apakah warga di negara-negara seperti Guinea Bissau, Mali dan Pantai Gading berpotensi terjangkit Ebola tanpa diketahui, Asisten Direktur Jenderal WHO Keiji Fukuda menjawab kemungkinannya kecil.
“Kami yakin bahwa penyebaran Ebola tidak meluas sampai ke negara-negara tetangga. Hal itu masih merupakan kekhawatiran bagi semua orang, namun sampai saat ini kami belum melihat penyebaran tersebut terjadi,” kata Fukuda kepada para wartawan di Jenewa.
Pada pekan lalu, WHO menyatakan akan mengirim sekelompok pakar ke Mali dan Pantai Gading untuk memastikan kesiapan kedua negara tersebut.
Jika Ebola menyebar ke Pantai Gading, maka dampak ekonominya akan terasi di seluruh dunia karena negara tersebut–bersama Ghana–adalah pemasok 60 persen kebutuhan biji kakao global.
Komite Darurat WHO mengenai Ebola mengatakan bahwa pembatasan izin keluar dari Liberia, Sierra Leone, dan Guinea melalui udara, darat, dan laut adalah langkah penting bagi pencegahan penyebaran Ebola ke bagian Afrika lain.
Sejumlah pakar dalam komite WHO mengatakan bahwa kebijakan pembatasan itu dapat diberlakukan dengan pengisian kuesioner, pengukuran temperatur tubuh, dan–jika kasus demam ditemukan–penilaian resiko apakah demam tersebut disebabkan oleh Ebola.
“Sampai saat ini, sudah 36.000 orang yang meninggalkan Guinea, Liberia dan Sierra Leone dengan melalui mekanisme pembatasan yang disebutkan WHO. Sebanyak 100 di antaranya telah “ditangguhkan izin keluarnya,” kata Isabelle Nuttal dari kluster ketahanan kesehatan WHO.
Komite WHO sendiri menegaskan bahwa larangan penuh perjalanan dan perdagangan internasional karena Ebola tidak boleh diberlakukan.
Dalam catatan WHO, virus Ebola telah menewaskan 4.877 jiwa. Namun angka tersebut berpotensi membengkak tiga kali lipat karena sulitnya pendataan.
WHO sendiri sebelumnya meminta bantuan sebanyak 12.000 staf lokal dan 750 pakar asing namun baru-baru ini menaikkannya menjadi 20.000 dan 1.000. Sampai saat ini baru ada 600 pakar asing.

()