Jakarta, aktual.com – Tidak cukup hanya pendampingan dan pengobatan medis, Orang dengan HIV/AIDS atau ODHA juga membutuhkan dukungan psikososial dan ekonomi.

Ini jadi salah satu alasan tiga pendiri Yayasan Pelita Ilmu (YPI) yang digawangi dua orang profesor dan satu orang sarjana kesehatan masyarakat Universitas Indonesia mendirikan lembaga sosial masyarakat yang memiliki kepedulian terhadap pasien HIV/AIDS di Indonesia.

YPI menjadi lembaga sosial pertama di Indonesia yang konsern pada HIV/AIDS, berdiri tahun 1989 ketika human immunodeficiency virus atau HIV dipandang sebagai penyakit mematikan, fatal dan belum ada obatnya.

Stigma serta diskriminasi masih berlaku di masyarat pada masa itu, bahkan datang dari keluarga si penderita. Prof Zubairi Djoerban, Profesor Samsuridjal dan Sri Wahyuningsih sepakat mendirikan lembaga di Jakarta yang mereka namakan Yayasan Pelita Ilmu (YPI) tepatnya tanggal 4 Desember.

Ketiga pendiri YPI mengawali langkah mereka lewat program pencegahan HIV/AIDS untuk remaja, mendatangi sekolah-sekolah memberikan penyuluhan tentang penyakit mematikan tersebut.

Penyuluhan tentang HIV/AIDS tidak mudah dilakukan begitu saja, anggapan masyarakat sudah terlanjur mencap HIV/AIDS sebagai penyakit tabu, karena berbicara HIV berarti berkaitan segala hal yang negatif.

Pada saat itu penderita HIV/AIDS didominasi kelompok berisiko seperti pengguna narkoba, penjaja seks, hingga homoseksual.

“Beberapa sekolah enggan menerima kedatangan konselor memberikan penyuluhan HIV, sekolah beralasan mereka baik-baik saja,” kenang Tika Surya Atmaja salah satu konselor YPI saat ditemui Jumat (22/11) di sanggar YPI Jalan Kebon Baru, Tebet, Jakarta Selatan.

Prof Zubairi dan Prof Samsuridjal lantas memanfaatkan koneksinya sebagai tenaga pengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) melakukan sosialisasi dan penyuluhan di sekolah-sekolah kenalannya, lewat kegiatan kuliah kerja nyata melibatkan mahasiswa.

Upaya ini membuahkan hasil, hingga sejumlah orang mengotak YPI, mereka adalah orang-orang yang sudah dinyatakan positif HIV/AIDS, dan sebagai besar merupakan pasien dari Prof Zubairi dan Prof Samsuridjal.

Kehadiran para pasien tersebut mendorong YPI lalu meluaskan misinya memberikan pendampingan lewat program dukungan untuk ODHA pada tahun 1996. Kegiatan yang dilakukan di antaranya, layanan sahabat (buddy services), kunjungan rumah dan ke rumah sakit, layanan rumah singgah, terapi kreatif, bantuan kerja mandiri, kelompok sahabat ODHA, dukungan kesehatan nutrisi dan pendidikan ODHA anak, dampingan masalah diskriminasi, bantuan biaya pengnobatan dan perawatan dan layanan rujukan ke rumah sakit, puskesmas maupun psikolog.

“YPI mengawali programnya lewat program pencegahan untuk remaja,” kata Tika.

Tahun 1996 YPI melebarkan sayapnya menjangkau lebih banyak lagi para ODHA dengan harapan semakin banyak orang tau, upaya pencegahan dapat berjalan, maka dilaksanakanlah program konseling dan tes HIV (VCT) untuk pertama kalinya di Indonesia.
Program pemberdayaan ekonomi bagi ODHA

Seiring berjalannya waktu hampir 30 tahun YPI berdiri, kepedulian terhadap HIV/AIDS telah muncul di masyarakat, gerakan pencegahan terus digaungkan, pendidikan untuk menghapus stigma dan diskriminasi massif dilakukan, YPI melihat ada kebutuhan mendasar nan vital yang perlu menjadi perhatian banyak pihak.

Tidak hanya persoalan medis, tapi ekonomi juga ikut menggerogoti para ODHA, setidaknya ada 75 persen pasien HIV/AIDS berasal dari masyarakat ekonomi lemah, sisanya tergolong dari keluarga berada.
Sundari, manager program Pendampingan ODHA YPI, mengatakan HIV/AIDS tidak hanya menggerogoti kesehatan para penderita tetapi juga memiskinkan kehidupan mereka.

“Beberapa ODHA yang kaya juga mengalami kesulitan ekonomi, karena mereka butuh obat setiap hari tidak boleh putus, setiap tahun harus mengecek darah, sekali cek biayanya Rp850 ribu sebelum ada BPJS kesehatan,” kata Sundari.

Data yang dihimpun YPI dari tahun 1994 sampai dengan 31 April 2016, total ada 3.064 ODHA yang didampingi YPI. Jumlah tersebut, sebanyak 2.670 masih hidup dan 394 sudah meninggal dunia.

Berdasarkan jenis kelamin, jumlah tersebut terdiri atas 2.525 pria dan 539 perempuan. Sedangkan berdasarkan status sosial, 1.281 orang ekonomi rendah, 1.363 ekonomi menengah dan 420 ekonomi tinggi.

Dan tak sedikit dari para ODHA yang harus kehilangan pekerjaannya ketika pihak kantor mengetahui status kesehatannya, diskriminasi dunia kerja masih terjadi, belum banyak perusahaan yang mau memperkerjakan orang yang sekarat.

Berangkat dari kesulitan ekonomi yang dihadapi para ODHA, YPI merancang program pemberdayaan ekonomi yang diwali tahun 1997 menggandeng Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN).

YPI mendapatkan bantuan dana senilai Rp25 juta dari BKKBN untuk menjalankan program pemberdayaan ekonomi, uang tersebut lalu dikelola sebagai modal usaha yang diberikan kepada para ODHA di Jakarta.

“Tahun pertama bantuan modal tidak banyak kami hanya bisa menyasar 15 ODHA untuk mendapatkan modal usaha,” kata Sundari.

Usaha yang dijalankan para ODHA beragam, ada yang membuka salon kecantikan, bengkel motor, hingga menjahit pakaian. Program ini berjalan dengan pendampingan dan pengawasan agar ODHA benar-benar serius menjalankan usahanya.

Tahun 2014 YPI kembali melanjutkan program pemberdayaan ekonomi tersebut, kali ini dukungan dana datang dari Kementerian Sosial, dengan dialokasikan dana lebih besar sehingga dapat menjangkau 200 ODHA.

ODHA mendapatkan modal usaha antara Rp4 juta sampai dengan Rp5 juta per orang dengan jenis usaha beragam, seperti makanan, salon kecantikan, bengkel, warung pulsa, menjual gas, dan warung kelontong.

Setahun berikutnya 2015 YPI kembali mendapatkan dukungan dana besarannya Rp400 juta, tapi kali ini tidak diperuntukkan bagi perorangan tapi kelompok usaha. Sehingga dibentuklah usaha produksi baju kaos yang diberi nama T-shirt Cita.

Dalam kegiatan usaha kelompok ini, para ODHA berkolaborasi memproduksi baju kaos dan menyablonnya sehingga menjadi baju kaos yang layak dijaul atau dijadikan cideramata.

Tahun 2016 YPI masih mendapatkan dana untuk program pemberdayaan ekonomi ODHA, menjangkau 100 orang dengan fokus pemberian dana bantuan untuk pengembangan usaha.

“Jadi 2016 ini kita berikan lagi dana bantuan kepada penerima awal yang usahanya butuh pengembangan,” kata Sundari.

Modal usaha dan dana pengembangan ini tidak diberikan begitu saja, penerima bantuan harus melewati proses seleksi yang dilakukan oleh YPI dan Kementerian Sosial. Syarat pertama untuk mendapatkan dana tersebut adalah punya niat yang sungguh-sungguh untuk memiliki usaha sendiri.

Selain niat, juga dukungan keluarga terhadap ODHA seperti apa, setelah itu calon penerima harus mengisi formulir pengajuan bantuan modal usaha. Sebelum diberikan modal, si penerima mendapatkan pelatihan manajerial selama lima hari, dengan harapan bisa mengelola dan menjalankan usahanya sebaik mungkin.

Program pemberdayaan ekonomi ini adalah kegiatan sosial karena tak jarang berjalan mulus bak air mengalir, jatuh bangun menjalankan usaha dilakoni para ODHA, bahkan macet karena si penerima modal usaha lebih dulu menghadap yang Maha Kuasa.

Tujuan program murni untuk kemanusaiaan dan rasa sosial yang tinggi, untuk membantu hidup para ODHA lebih berkualitas dan memiliki arti, karena jika mereka mandiri secara ekonomi otomatis keberadaan mereka tidak lagi menjadi beban keluarga.

“Kita ingin menjadikan ODHA ini mandiri kesehatan, mandiri keekonomian, dan mandiri kejiwaannya,” kata Sundari.

ODHA berwirausaha

ODHA tidak berbeda dengan yang lainnya, juga memiliki talenta dengan keahliannya masing-masing, hanya saja penyakit yang terlanjuri dicap mematikan itu menguburkan bakat mereka hidup-hidup, hingga berakhir dengan menanti ajal tiba.

Dhea (43) salah satu ODHA binaan YPI sempat menikmati dana bantuan program pemberdayaan ekonomi sebanyak dua kali yakni di tahun 2014 dan 2016, membuka usaha sesuai hobinya masak-memasak.

Ibu empat orang anak ini lantas membuka warung sayur di depan rumah orang tuanya di bilangan Manggarai, Jakarta Selatan, usahanya sempat berjalan selama beberapa bulan, lalu karena ketidakcermatannya mengelola keuangan usaha tersebut tutup.

Dhea tidak yakin kemacetan usaha yang dijalankannya karena orang mengetahui statusnya sebagai ODHA, tapi dia mengakui kebangkrutan itu terjadi karena tidak pandai mengelola keuangan.

“Sebagian orang ada yang tahu status saya, sebagian lagi tidak,” katanya.

Dhea sempat membanting stir menjadi penjual pulsa, kerjaan ini dilakoninya menyambi dengan kegiatannya sebagai relawan YPI untuk menjangkau para ODHA dan memberikan pendidikan tentang HIV/AIDS.

Usaha tersebut tak semulus harapannya, hingga Dhea memutuskan mencoba peruntungan merantau ke Nusa Tenggara Timur (NTT). Setelah setahun merantau, Dhea pulang setelah menikah sirih dengan suami ketiga dan mengandung anak ketiga.

Dhea memutuskan tinggal menetap di rumah orang tuanya bersama anak-anaknya, dan menjalankan usaha warung kecil-kecilan, memanfaatkan momen Ramadhan menjual takjil di pinggiran rel kereta, dan kue lebaran.

Kini Dhea bersama temannya membuka usaha warung waralaba, usaha inipun sudah berjalan selama enam bulan lamanya.
Sundari mengatakan, Dhea adalah sosok ODHA pekerja keras, walau terpuruk dan berkali-kali jatuh menjalankan usahanya, tapi terus bangkit dan berani memulai usaha baru.

“Dhea salah satu perempuan ODHA yang tangguh, punya semangat juang yang tinggi, tidak peduli beberapa kali jatuh dia bangkit lagi, jadi motivator untuk para ODHA lainnya,” kata Sundari.

Program pemberdayaan ekonomi yang dijalankan YPI ini, lanjut Sundari, tidak hanya memberi harapan bagi para ODHA tapi juga menghapus stigma ODHA adalah beban bagi keluarga. [Eko Priyanto]

(Zaenal Arifin)