Ilustrasi

Jakarta, Aktual.com– Suatu ketika di pasar Ukaz diadakan bazar besar-besaran. Dibazar itu dijual berbagai hal yang terbaik, dan juga pada saat itu diadakan perlombaan puisi. Momen yang ditunggu-tunggu oleh kebanyakan orang pada saat itu.

Terdapat suatu hal yang juga diperjualbelikan pada saat itu, yaitu budak. Budak pada saat itu masih dibolehkan untuk diperjualbelikan. Hakim bin Hazm, kerabat dari Sayyidah Khadijah binti Khuwailid membeli seorang budak kecil bernama Zaid bin Haritsah.

Ketika sampai dirumahnya, Hakim disambut oleh Khadijah. Sebelum masuk rumah, Hakim sudah menawarkan oleh-oleh yang Ia bawa dari bazar untuk diambil oleh Khadijah. Setelah melihat-lihat, Khajidah akhirnya memilih Zaid bin Haritsah untuk dirinya. Khadijah memilih Zaid karena ia menilai Zaid sebagai tipikal anak yang cerdas dan tangkas.

Tidak beberapa lama dari peristiwa itu, Khadijah yang saat itu belum menikah dengan Nabi Muhammad, akhirnya menikah. Khadijah berniat memberikan Zaid sebagai hadiah kepada Nabi Muhammad. Nabi Muhammad pun menerima Zaid sebagai budaknya.

Di suatu tempat tepatnya di kampung Zaid bin Haritsah, Ibunda Zaid tidak mengetahui keberadaan dan keadaan anaknya saat itu. Musim Haji saat itu sedang berlangsung, orang-orang kampung Zaid pergi ke Mekkah untuk beribadah haji. Selama beribadah mereka melihat seorang anak yang mirip dengan Zaid. Sepulang dari haji, mereka melaporkan kejadian itu pada keluarga Zaid di kampung.

Tanpa menunggu waktu lama, keluarganya segera pergi ke Mekkah. Mereka membawa sejumlah harta untuk menebus Zaid kepada Nabi. Sesampainya di Mekkah mereka langsung menuju Nabi. Mereka sampaikan keinginannya. Setelah terjadi diskusi, Nabi menawarkan saran kepada keluarga Zaid. Saran Nabi, bagaimana jika urusan ini dipasrahkan kepada Zaid. Ia diperkenankan memilih.

Tak disangka, Zaid memilih hidup bersama Nabi di Mekkah. Keluarga Zaid yang datang jauh-jauh dari kampung tidak menerima keputusan Zaid. Salah seorang dari mereka berkata:

“Engkau akan celakan Zaid! Dirimu lebih memilih orang lain daripada orang tuamu,”

“Aku melihat sesuatu yang beda dari orang ini (Nabi Muhammad SAW), tak mungkin aku menjauhinya,” jawab Zaid.

Melihat Zaid lebih memilih bersama Nabi, Nabi Muhammad dengan senang hati menarik tangan Zaid dan membawanya ke keramaian dan mendeklarasikan bahwa Zaid adalah “anak” Nabi. Melihat hal itu, keluarga Zaid yang tadinya kecewa menjadi senang dan cukup tenang. Dalam benak mereka, Nabi bisa merawat Zaid dengan baik.

Kecintaan Zaid pada Nabi seperti kecintaan dirinya pada orang tuanya. Begitupula Nabi, beliau sangat mencintai zaid. Mereka sudah seperti anak dan orang tua. Ketika Zaid pergi, Nabi selalu merindukannya. Ketika Ia datang, Nabi antusias menyambutnya.

Kabar kecintaan Nabi Muhammad kepada Zaid tersebar luas ke seluruh Muslimin. Menyebar dari telinga ke telinga hingga Zaid dijuluki sebagai Zaid al-Hubb, yang artinya Zaid laki-laki kecintaan Nabi.

Waallahu a’lam

(Rizky Zulkarnain)

(Arie Saputra)