Jakarta, Aktual.com — Tahun 2016 sudah tiba, menandakan harapan-harapan baru di tahun ini akan lebih baik dari tahun kemarin. Tak terkecuali para-para pengamat berharap kondisi ekonomi, politik, sosial, budaya, hukum, keamanan, dan pertahanan Indonesia akan semakin baik.

Menurut Dosen Sosial Politik Universitas Negeri Jakarta (UNJ), dan Direktur Pusat Studi Sosial Politik (Puspol) Indonesia, Ubedilah Badrun bahwa kondisi sosial politik 2016 relatif masih sama dengan tahun 2015.

“Secara sosial masyarakat Indonesia berada dalam dua keadaan yaitu liquid society dan inersia sosial,” kata Ubed kepada aktual.com, Kamis (31/12).

Ubed menjelaskan keadaan masyarakat yang liquid adalah dimana masyarakat yang cair mudah berubah dan mudah digiring oleh dominasi informasi yang mereka terima meskipun informasi tersebut tidak memiliki indikator yang kuat sebagai kebenaran.

Sementara inersia sosial adalah keadaan masyarakat yang sakit secara moralitas karena mereka merasa tidak sakit secara moral dalam perilakunya yang amoral itu. Dua keadaan masyarakat ini yang menyebabkan rendahnya sikap kritis dan rendahnya solidaritas.

“Kapitalisme baru telah mengkerangkeng moralitas manusia. Dan manusia Indonesia sedang dimanjakan oleh hingar bingar kehidupan sosial ekonomi yang hidup akibat tumpukan utang negara dan swasta yang jumlahnya mencapai lebih dari 3.000 triliun,” jelas Ubed.

Kondisi politik tahun 2016 juga relatif tidak berbeda dengan tahun 2015. Sebab praktik politik saat ini sudah memasuki tahap lanjut oligarki dan kleptokrasi yang akut.

“Wajah eksekutif dan legislatif masih didominasi oleh wajah oligark dan kleptokrat. Oleh karenanya kegaduhan politik masih mungkin akan terus terjadi. Kecuali ada langkah-langkah revolusioner dari Presiden dan pimpinan partai politik untuk menempatkan national interest sebagai agenda utama,” pungkasnya.

(Arbie Marwan)