Jakarta, aktual.com – Aksi demonstrasi digelar aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) di Kota New York, Amerika Serikat, terhadap Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan karena dituding telah melanggar hak asasi manusia dan membungkam demokrasi di negaranya. Mereka mempersoalkan penahanan ratusan bayi dan anak-anak di penjara Turki bersama ibu mereka.

Aksi ini digelar kala Recep Tayyip Erdogan menghadiri Sidang Majelis Umum PBB minggu lalu.

Menurut para aktivis, ada sekitar 864 bayi dan puluhan ribu wanita yang di penjara di Turki. Mereka menyebut bahwa beberapa dari anak-anak ini menderita cacat atau dengan kondisi medis yang memerlukan perawatan medis berkelanjutan.

Ratusan aktivis tersebut menggunakan truk & mobil melakukan aksi di jalan-jalan Manhattan, New York. Mereka melakukan orasi dan membawa poster-poster untuk meningkatkan kesadaran dunia tentang adanya pelanggaran hak asasi manusia yang tengah terjadi di Turki.

Merujuk laporan media Jerman, DW.de, pada pertengahan tahun ini, setidaknya 743 anak di bawah usia 6 tahun harus tinggal di balik jeruji besi di Turki bersama dengan ibu mereka. “Sekitar setengahnya bahkan belum mencapai usia 3 tahun,” kata Saban Yilmaz, yang mengepalai komisi HAM parlemen.

KUHP Turki, menyatakan bahwa seharusnya, ibu dengan anak di bawah 6 bulan hukuman penjara mereka ditangguhkan. “Dia lahir pada hari Jumat. Sehari kemudian, kami terpaksa merelakan dia dan ibunya ke penjara,” kata Huseyin Sahnaz, yang istrinya dituduh terlibat dalam organisasi Gulen, kepada DW.

Istri Sahnaz, Hatice, akan menghabiskan lebih dari enam tahun di penjara berkeamanan maksimum di dekat kota Antalya di Turki – bersama dengan bayi perempuannya.

Kejadian ini membuat Sahnaz sangat mengkhawatirkan istri dan anak bayinya. Bagaimanapun, penjara bukanlah tempat yang ramah bagi ibu dan bayinya. Keduanya harus berbagi sel dengan 30 narapidana lainnya.

“Tidak adil anak-anak dihukum karena kejahatan ibu mereka,” kata Huseyin Kucukbalaban, koordinator Asosiasi Hak Asasi Manusia Turki.

Selain di Amerika, ribuan orang juga melakukan aksi damai di Leipzig, Jerman. Mereka mengambil bagian dalam protes menuntut pembebasan anak-anak yang ditahan bersama ibu mereka di penjara Erdogan.

Para pemrotes memegang spanduk bertuliskan “11.000 wanita dan 864 anak-anak di penjara Turki” dan “Bebaskan anak-anak dari penjara”. Aktivis menganggap bahwa memenjarakan anak-anak tanpa tuduhan adalah pelanggaran serius terhadap hak asasi manusia dan hukum internasional.

Para pendemo menyatakan bahwa wanita hamil dan ibu-ibu Turki mengalami kerusakan psikologis yang signifikan di penjara sebagai akibat dari pemenjaraan sewenang-wenang mereka, menuntut pemerintah Turki untuk membebaskan mereka.

Menurut laman The Reference, Selasa (1/10), seorang jurnalis Turki, Mesale Tolu, juga ditahan selama berbulan-bulan bersama putranya yang berusia 3 tahun, karena diduga memiliki hubungan Gulen dan akan kembali menjalani persidangan di Istanbul dalam waktu dekat ini.

“Pemerintahan Presiden Erdogan telah menghajar ratusan ribu orang pengkritik dari berbagai kelompok, terutama gerakan Gulen Movement yang damai,” ungkap jurnalis senior, Mahmud Mohamadi seperti dikutip dari UA24/news.

Lebih dari itu, lanjut Mahmud Mohamadi, para aktivis lingkungan, jurnalis, akademisi, kurdi, alavi, non muslim dan beberapa kelompok muslim Sunni yang telah mengkritik tindakan Erdogan, memiliki andil besar dalam konsekuensi dari agenda politiknya.

“Sendi kehidupan masyarakat telah dihancurkan melalui pemecatan, penyitaan, pemenjaraan, dan penyiksaan,” lanjut Mahmud Mohamadi.

Semua kejadian yang dinilai melanggar hak asasi manusia tersebut, menuai protes keras dari berbagai negara di antaranya Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa.

Advocates of Silenced Turki merupakan organisasi nirlaba hak asasi manusia yang bekerja untuk hak-hak orang yang dianiaya di Turki, saat ini meluncurkan inisiatif yang menuntut agar ibu rumah tangga dan bayi-bayi yang dipenjarakan segera dibebaskan.

(Zaenal Arifin)